Harga Minyak Stabil Usai Trump Prioritaskan Diplomasi Nuklir Dengan Iran

Selasa, 24 Februari 2026 | 10:14:09 WIB
Harga Minyak Stabil Usai Trump Prioritaskan Diplomasi Nuklir Dengan Iran

JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia cenderung tenang di tengah dinamika geopolitik yang kembali mencuat. 

Pasar energi merespons pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menegaskan pendekatan diplomasi sebagai prioritas utama dalam isu nuklir Iran. Sikap tersebut memberi sinyal penurunan risiko konflik jangka pendek.

Meski memilih jalur negosiasi, Trump tetap menyampaikan peringatan keras kepada Teheran. Ia menegaskan akan ada konsekuensi serius apabila kesepakatan gagal dicapai. Pernyataan yang bernada tegas namun diplomatis ini membuat pelaku pasar mengambil posisi lebih hati hati.

Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate diperdagangkan di kisaran US$66 per barel setelah ditutup hampir tanpa perubahan pada Senin. Sementara itu, minyak jenis Brent menetap di bawah level US$72 per barel. Stabilitas ini mencerminkan keseimbangan sementara antara risiko geopolitik dan ekspektasi pasokan global.

Unggahan Trump di media sosial turut memengaruhi sentimen pasar. Ia memperingatkan bahwa akan menjadi hari yang sangat buruk bagi Iran jika kesepakatan tidak disetujui. Pada saat yang sama, ia membantah laporan yang menyebut Pentagon khawatir mengenai potensi kesulitan jika operasi militer dilakukan secara berkepanjangan.

Diplomasi Jadi Pilihan Utama Washington

Pernyataan Trump yang memprioritaskan kesepakatan nuklir dinilai sebagai upaya meredakan ketegangan. Pendekatan diplomatik memberi harapan bahwa eskalasi militer dapat dihindari. Hal ini membantu menahan lonjakan harga minyak yang sebelumnya dipicu spekulasi konflik.

Pasar memandang peluang dialog sebagai faktor positif dalam jangka pendek. Setiap sinyal deeskalasi biasanya berdampak pada stabilitas harga energi. Investor memilih menunggu hasil perundingan sebelum mengambil langkah agresif.

Namun nada peringatan yang disampaikan Trump tetap menjaga unsur ketidakpastian. Kombinasi diplomasi dan ancaman keras menciptakan situasi ambigu bagi pasar. Pelaku industri energi pun memantau perkembangan secara cermat.

Pendekatan ini menempatkan Washington dalam posisi tawar yang kuat. Diplomasi dijalankan, tetapi tekanan tetap diberikan sebagai alat negosiasi. Strategi tersebut membuat dinamika harga minyak bergerak dalam kisaran terbatas.

Ketegangan Timur Tengah Bayangi Pasar

Kekhawatiran terhadap dampak serangan Amerika Serikat terhadap Iran telah menjadi motor penggerak kenaikan harga minyak berjangka tahun ini. Sentimen tersebut muncul meskipun pasar global dibayangi ekspektasi kelebihan pasokan.

Militer Amerika Serikat dilaporkan telah menghimpun kekuatan besar di kawasan Timur Tengah. Langkah ini menimbulkan spekulasi mengenai kemungkinan eskalasi apabila negosiasi tidak berjalan mulus. Situasi tersebut tetap menjadi faktor risiko utama.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat juga memerintahkan evakuasi personel non darurat di kedutaan mereka di Beirut. Kebijakan ini menunjukkan kewaspadaan tinggi terhadap potensi gangguan keamanan regional. Pasar merespons langkah itu dengan sikap waspada.

Ketegangan di kawasan strategis seperti Timur Tengah selalu berdampak langsung pada harga energi. Wilayah tersebut merupakan jalur vital distribusi minyak global. Gangguan sekecil apa pun dapat memicu lonjakan harga secara cepat.

Agenda Perundingan Di Jenewa

Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, bersama Jared Kushner dijadwalkan terbang ke Jenewa pekan ini. Mereka akan menghadiri putaran baru perundingan pada hari Kamis. Agenda ini menjadi fokus utama pelaku pasar energi internasional.

Menurut pejabat Amerika Serikat, delegasi tersebut akan bertemu kembali dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Pertemuan ini diharapkan membuka ruang kompromi baru antara kedua negara.

Perundingan sebelumnya telah menciptakan dasar diskusi, namun belum menghasilkan kesepakatan final. Putaran kali ini dianggap krusial dalam menentukan arah hubungan kedua negara. Hasilnya akan berdampak langsung pada stabilitas pasar minyak.

Investor menilai keberhasilan diplomasi dapat menekan premi risiko geopolitik. Sebaliknya, kegagalan dialog berpotensi mendorong spekulasi konflik lebih luas. Oleh karena itu, fokus pasar tertuju pada perkembangan di Jenewa.

Keseimbangan Antara Risiko Dan Pasokan

Meskipun ketegangan geopolitik menjadi perhatian utama, pasar juga mempertimbangkan faktor fundamental. Ekspektasi kelebihan pasokan global tetap membayangi prospek harga dalam jangka menengah.

Produksi dari sejumlah negara produsen utama masih relatif stabil. Kondisi ini menahan potensi lonjakan harga meskipun risiko geopolitik meningkat. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat harga bergerak terbatas.

Stabilitas harga saat ini mencerminkan keseimbangan rapuh antara sentimen diplomatik dan risiko militer. Setiap pernyataan resmi dari kedua pihak dapat mengubah arah pergerakan pasar. Oleh sebab itu, volatilitas tetap menjadi kemungkinan.

Dalam beberapa hari ke depan, hasil perundingan akan menjadi katalis utama. Jika diplomasi membuahkan hasil, harga minyak berpotensi tetap stabil atau bahkan melemah. Namun jika ketegangan meningkat, pasar energi global dapat kembali mengalami gejolak signifikan.=

Terkini