Pasokan Listrik Ramadan Aman Korban Bencana PLN Jawa Barat

Selasa, 24 Februari 2026 | 10:13:55 WIB
Pasokan Listrik Ramadan Aman Korban Bencana PLN Jawa Barat

JAKARTA - Menjelang bulan suci Ramadan, perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana menjadi sorotan serius. 

Ketersediaan listrik dinilai sangat penting agar para pengungsi tetap dapat menjalankan aktivitas dan ibadah dengan layak. Dalam konteks ini, peran penyedia layanan kelistrikan menjadi krusial untuk memastikan pasokan tetap stabil. Dukungan energi yang andal diharapkan mampu memberikan rasa aman bagi warga yang masih berada di tenda darurat.

Anggota Komisi XII DPR RI Irsan Sosiawan meminta PT PLN Persero UID Jawa Barat memastikan pasokan listrik tetap aman selama bulan Ramadan. Permintaan tersebut secara khusus ditujukan bagi masyarakat di wilayah terdampak bencana alam, terutama para pengungsi yang masih bertahan di tenda darurat. Ia menilai kelompok rentan memerlukan perhatian ekstra dari negara. Terlebih pada momentum Ramadan yang identik dengan peningkatan aktivitas ibadah pada malam hari.

"Saya sudah berbicara langsung kepada pihak PLN di daerah agar jangan sampai ada pemadaman selama bulan Ramadan ini. Terutama bagi masyarakat korban bencana yang saat ini masih tinggal di tenda-tenda pengungsian, mereka harus tetap mendapat support listrik yang memadai," kata Irsan di Jakarta, Senin, 23 Februari 2026. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya kontinuitas pasokan listrik tanpa gangguan. Ia berharap koordinasi di tingkat daerah berjalan optimal.

Permintaan itu disampaikan usai dirinya menghadiri agenda pengawasan implementasi program elektrifikasi nasional di Jawa Barat. Ia menegaskan, kelompok rentan seperti pengungsi membutuhkan perhatian ekstra agar tetap dapat menjalankan ibadah dengan nyaman. Kondisi darurat tidak boleh menjadi alasan terhambatnya akses listrik. Apalagi listrik kini menjadi kebutuhan mendasar dalam kehidupan sehari hari.

Irsan yang baru kembali dari peninjauan penanganan pascabencana di Daerah Pemilihan Aceh II menyebut, keberlangsungan listrik menjadi kebutuhan mendasar. Ia juga mengapresiasi langkah cepat pemerintah melalui distribusi genset darurat oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ke lokasi terdampak. Bantuan tersebut dinilai sangat membantu para pengungsi. Terutama untuk memenuhi kebutuhan penerangan dan operasional peralatan penting.

"Bantuan dari Kementerian ESDM sudah mereka dapati. Harapan kita bersama, di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, para pengungsi tetap mendapatkan aliran listrik agar ibadah mereka berjalan lancar tanpa kendala pemadaman," ujarnya. Ia menekankan bahwa listrik bukan sekadar fasilitas tambahan. Bagi para korban bencana, listrik menjadi simbol hadirnya negara di tengah situasi sulit. Karena itu, sinergi antarinstansi harus terus diperkuat.

Perhatian Khusus Bagi Korban Bencana

Menurut Irsan, para pengungsi yang masih bertahan di tenda darurat menghadapi keterbatasan dalam berbagai aspek kehidupan. Ketersediaan listrik yang stabil akan sangat membantu mereka menjalani hari hari selama Ramadan. Aktivitas seperti sahur, berbuka, hingga salat tarawih memerlukan dukungan penerangan memadai. Tanpa pasokan listrik yang andal, kondisi di pengungsian dapat semakin berat.

Ia menilai PLN perlu memastikan tidak ada pemadaman terjadwal di wilayah terdampak. Upaya mitigasi risiko gangguan harus dilakukan sejak dini. Hal ini penting agar masyarakat tidak kembali dirugikan akibat faktor teknis. Pemerintah dan PLN diharapkan terus melakukan pemantauan intensif.

Potensi Energi Panas Bumi Jawa Barat

Pada kesempatan yang sama, Irsan turut menyoroti potensi energi panas bumi Jawa Barat yang dinilai sangat melimpah. Menurutnya, potensi tersebut menjadi salah satu andalan dalam mendorong transisi energi nasional menuju sumber energi bersih. Jawa Barat dikenal memiliki cadangan geothermal besar yang strategis. Pengembangan yang tepat dapat mendukung ketahanan energi nasional.

Namun, ia mengingatkan agar proses eksplorasi geothermal dilakukan secara hati hati. Ia menekankan, hanya perusahaan yang benar benar kompeten yang seharusnya dilibatkan dalam proyek tersebut. Risiko eksplorasi yang tinggi menuntut kesiapan teknologi dan pendanaan kuat. Tanpa perencanaan matang, proyek bisa berujung pada kerugian.

"Geotermal ini adalah energi bersih, tetapi biaya eksplorasinya sangat mahal dan risikonya tinggi, mirip seperti mengeksplorasi minyak. Kita sudah melihat ada perusahaan, seperti Star Energy Geothermal yang sudah membuktikan produksinya dan bermanfaat bagi masyarakat, ke depan, jika ada perusahaan lain yang ingin menggali potensi geothermal, mereka harus kompetitif dan sejalan dengan rencana transmisi yang disediakan oleh PLN," kata Irsan. Ia menilai keberhasilan perusahaan tersebut bisa menjadi contoh. Standar profesionalisme harus dijadikan acuan.

Pentingnya Selektivitas Dan Tanggung Jawab Sosial

Ia mengingatkan agar proyek eksplorasi tidak diberikan kepada perusahaan yang hanya bermodal coba coba. Menurutnya, kegagalan eksplorasi hanya akan berujung pada pemborosan dan tidak memberi manfaat bagi negara maupun masyarakat. Proyek energi berskala besar membutuhkan komitmen jangka panjang. Selektivitas dalam penentuan mitra menjadi hal mutlak.

Selain aspek teknis, Irsan juga menekankan pentingnya tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. "Perusahaan tidak mungkin bisa beroperasi sendirian tanpa masyarakat di sekitarnya, oleh karena itu, masyarakat harus dilibatkan dan merasakan langsung manfaatnya," katanya. Keterlibatan masyarakat sekitar proyek dinilai sangat penting. Dukungan sosial akan memperkuat keberlanjutan investasi energi.

"Program CSR sangat diperlukan, baik di bidang pendidikan maupun kesehatan. Guna meningkatkan kesejahteraan warga setempat sekaligus menjaga kelestarian alam," ucapnya. Ia berharap pengembangan energi bersih berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dengan pasokan listrik yang aman selama Ramadan serta pengelolaan energi berkelanjutan, kebutuhan rakyat dapat terpenuhi secara adil dan merata.

Terkini