Asal Usul Ngabuburit Dalam Tradisi Ramadan Di Indonesia Lengkap

Selasa, 24 Februari 2026 | 09:11:53 WIB
Asal Usul Ngabuburit Dalam Tradisi Ramadan Di Indonesia Lengkap

JAKARTA - Menjelang azan magrib pada bulan Ramadan, suasana di berbagai daerah di Indonesia terasa berbeda. 

Jalanan lebih ramai, pusat jajanan dipadati pembeli, dan ruang publik dipenuhi warga yang menanti waktu berbuka. Fenomena ini dikenal luas dengan istilah ngabuburit, sebuah tradisi yang lekat dengan Ramadan.

Ramadan di Indonesia selalu menghadirkan berbagai kebiasaan khas masyarakat. Salah satu istilah yang paling sering terdengar selama bulan puasa ialah “ngabuburit”. Istilah ini seolah menjadi penanda suasana sore hari yang penuh antusiasme dan kebersamaan.

Kata tersebut digunakan untuk menyebut aktivitas menjelang waktu berbuka pada sore hari. Walaupun populer, tidak semua orang mengetahui asal-usul istilah itu. Banyak yang memakainya dalam percakapan sehari-hari tanpa memahami akar bahasanya.

Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan mengisi waktu luang, melainkan bagian dari dinamika sosial masyarakat Muslim Indonesia. Dari kota besar hingga pelosok desa, ngabuburit menjadi momen yang dinantikan setiap hari selama Ramadan.

Asal Usul Istilah Ngabuburit

Secara etimologis, ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, yakni ungkapan ngalantung ngadagoan burit yang bermakna menunggu datangnya senja sambil bersantai. Ungkapan tersebut menggambarkan aktivitas ringan sembari menanti waktu sore.

Kata burit sendiri berarti waktu sore atau menjelang malam. Dari kata inilah muncul istilah ngabuburit yang kemudian diserap dalam percakapan sehari-hari masyarakat.

Penggunaannya kemudian meluas dan tidak lagi hanya dikenal di kalangan masyarakat Sunda. Kini istilah ngabuburit dipakai hampir di seluruh Indonesia dan menjadi bagian dari tradisi Ramadan.

Perluasan makna ini menunjukkan bagaimana bahasa daerah dapat bertransformasi menjadi istilah nasional. Ngabuburit akhirnya tidak lagi dipandang sebagai istilah lokal, melainkan bagian dari budaya Ramadan Indonesia.

Ngabuburit Pada Masa Awal

Pada mulanya, ngabuburit diisi dengan kegiatan sederhana seperti duduk di rumah, berbincang bersama keluarga, atau membaca Al-Qur’an sambil menanti azan magrib. Aktivitas ini mencerminkan suasana Ramadan yang tenang dan penuh kekhusyukan.

Bagi sebagian masyarakat, waktu menjelang berbuka dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah. Ada yang memilih berzikir, membaca kitab suci, atau mendengarkan ceramah agama di lingkungan sekitar.

Tradisi sederhana tersebut memperlihatkan bahwa ngabuburit tidak selalu identik dengan keramaian. Intinya adalah menunggu waktu berbuka dengan kegiatan yang positif dan menenangkan hati.

Dalam konteks keluarga, ngabuburit juga menjadi momen mempererat hubungan. Percakapan ringan menjelang magrib sering kali menghadirkan suasana hangat yang khas selama Ramadan.

Perkembangan Aktivitas Ngabuburit

Seiring perkembangan zaman, aktivitas tersebut berubah menjadi kegiatan sosial yang lebih beragam. Banyak orang memilih berjalan santai, berburu takjil di pasar Ramadan, hingga menghadiri kajian keagamaan di masjid.

Kehadiran pasar Ramadan di berbagai kota turut memperkaya tradisi ngabuburit. Aneka makanan dan minuman khas berbuka menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Selain itu, ruang publik seperti taman kota dan alun-alun sering dipadati warga yang berkumpul bersama teman atau keluarga. Mereka menikmati suasana sore sambil menunggu azan magrib berkumandang.

Perubahan ini menunjukkan bahwa ngabuburit bersifat dinamis dan mengikuti perkembangan sosial masyarakat. Meski bentuknya berbeda dari masa lalu, semangat menunggu waktu berbuka tetap menjadi inti tradisi tersebut.

Ragam Tradisi Di Berbagai Daerah

Di sejumlah daerah, bentuk ngabuburit menyesuaikan tradisi lokal. Di Jawa Tengah dan Yogyakarta misalnya, anak-anak kerap mengisinya dengan permainan tradisional.

Permainan tersebut menjadi sarana hiburan sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda. Aktivitas ini menambah warna tersendiri dalam suasana Ramadan.

Sementara di kawasan pesisir seperti Pantai Losari di Makassar, masyarakat menunggu waktu berbuka dengan bersantai menikmati pemandangan matahari terbenam. Panorama alam menjadi latar yang memperindah momen ngabuburit.

Meski bentuknya semakin beragam, tujuan ngabuburit tetap sama, yakni mengisi waktu menjelang berbuka dengan kegiatan yang menyenangkan sekaligus bermanfaat. Tradisi ini menjadi bukti kekayaan budaya Ramadan di Indonesia yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Terkini