Freeport Indonesia Bidik Penjualan Emas 830 Ribu Ons Dan Tembaga 2026

Senin, 02 Februari 2026 | 13:25:19 WIB
Freeport Indonesia Bidik Penjualan Emas 830 Ribu Ons Dan Tembaga 2026

JAKARTA - PT Freeport Indonesia menatap tahun 2026 dengan strategi produksi dan penjualan yang lebih terukur pasca berbagai tantangan operasional. 

Perusahaan tambang ini memproyeksikan kinerja penjualan emas dan tembaga tetap berada pada level signifikan, meski belum sepenuhnya kembali ke kapasitas normal. Target tersebut disusun dengan mempertimbangkan kondisi tambang bawah tanah serta rencana pemulihan operasional secara bertahap.

Dalam proyeksi terbaru, penjualan emas dan tembaga Freeport Indonesia pada 2026 diperkirakan mengalami penyesuaian dibandingkan capaian tahun sebelumnya. 

Penyesuaian ini mencerminkan fokus perusahaan pada keselamatan, keberlanjutan operasi, serta kesiapan infrastruktur pendukung sebelum kembali beroperasi penuh. Manajemen menilai langkah tersebut penting untuk menjaga stabilitas jangka panjang.

Target Penjualan Emas Dan Tembaga 2026

PT Freeport Indonesia menargetkan penjualan emas mencapai 830.000 ons atau setara sekitar 26 ton pada tahun 2026. Di saat yang sama, penjualan tembaga diproyeksikan mencapai 1,1 miliar pon atau sekitar 480.000 ton. Target ini disampaikan sebagai bagian dari rencana bisnis perusahaan untuk tahun mendatang.

"Pada tahun 2026, penjualan tembaga direncanakan mencapai 1,1 miliar pound atau setara 480.000 ton. Sementara penjualan emas ditargetkan sebesar 830.000 ounces atau sekitar 26 ton," ungkap VP Corporate Communications PT Freeport Indonesia, Katri Krisnati kepada Kontan, Jumat.

Jika dibandingkan dengan kinerja tahun 2025, target tersebut memang lebih rendah. Sepanjang 2025, Freeport Indonesia mencatat penjualan emas sebesar 1,1 juta ons dan tembaga mencapai 1,2 miliar pon. Penurunan target ini dipengaruhi oleh kondisi operasional tambang yang belum sepenuhnya pulih.

Dampak Insiden Longsor Grasberg Block Cave

Penyesuaian target produksi tidak lepas dari insiden longsor yang terjadi di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave. Insiden tersebut terjadi pada Senin malam, 8 September 2025, dan berdampak signifikan terhadap aktivitas penambangan. Sejak saat itu, operasional tambang mengalami perubahan skema produksi.

Saat ini, aktivitas penambangan PT Freeport Indonesia hanya dilakukan di dua area tambang lainnya, yaitu Deep Mill Level Zone dan Big Gossan. Kedua tambang tersebut beroperasi dengan kapasitas sekitar 30 persen dari total produksi normal. Kondisi ini secara langsung memengaruhi volume produksi dan penjualan.

Manajemen perusahaan menegaskan bahwa keselamatan pekerja dan stabilitas tambang menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, pemulihan operasional dilakukan secara hati hati dan bertahap, seiring dengan proses evaluasi teknis dan perbaikan infrastruktur di area terdampak.

Rencana Pengoperasian Parsial Tambang GBC

Katri Krisnati menjelaskan bahwa pengoperasian parsial tambang Grasberg Block Cave direncanakan dapat dimulai secara bertahap pada akhir kuartal pertama 2026. Tahapan ini menjadi langkah awal sebelum tambang tersebut kembali beroperasi lebih optimal.

"Sehingga diperkirakan pasokan konsentrat ke smelter PTFI di KEK Gresik dapat kembali dimulai pada pertengahan kuartal II 2026," ungkap dia.

Kembalinya pasokan konsentrat ke smelter menjadi faktor penting dalam menjaga kesinambungan rantai produksi Freeport Indonesia. Smelter di Kawasan Ekonomi Khusus Gresik merupakan bagian strategis dari integrasi hilirisasi yang tengah dijalankan perusahaan.

Proyeksi Pemulihan Produksi Menurut Freeport McMoRan

Sebelumnya, Freeport McMoRan Inc selaku induk usaha juga telah menyampaikan proyeksi pemulihan operasional tambang Grasberg Block Cave. Perusahaan tersebut melaporkan bahwa operasional GBC diperkirakan kembali berjalan mulai kuartal kedua 2026.

Freeport McMoRan juga menargetkan produksi Freeport Indonesia dapat kembali mencapai sekitar 85 persen dari tingkat produksi normal mulai semester kedua 2026. Proyeksi ini didasarkan pada kemajuan perbaikan infrastruktur serta kesiapan area produksi.

“Berdasarkan perkiraan saat ini, PTFI memperkirakan sekitar 85% dari total produksinya pada tingkat operasi normal akan pulih pada paruh kedua 2026,” tulis Freeport McMoRan dalam laporan resminya, Sabtu (24/1/2026).

Tahapan Operasional Blok Produksi GBC

Dalam penjelasannya, Freeport McMoRan menyebutkan bahwa operasional Blok Produksi 2 dan Blok Produksi 3 di tambang Grasberg Block Cave direncanakan mulai berjalan pada kuartal kedua 2026. Sementara itu, Blok Produksi 1 ditargetkan baru dapat beroperasi pada 2027.

“Tonggak penting yang diperlukan untuk memulai produksi di Blok Produksi 2 dan 3, termasuk pembersihan lumpur di area tambang, perbaikan infrastruktur pendukung, dan pemasangan penghalang pelindung, berjalan sesuai jadwal,” tegas Freeport McMoRan.

Tahapan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan operasional tambang dilakukan dengan perencanaan yang matang. Perusahaan menekankan bahwa setiap tahap harus memenuhi standar keselamatan dan teknis sebelum produksi ditingkatkan.

Dengan target penjualan emas dan tembaga yang telah disusun, PT Freeport Indonesia berharap dapat menjaga kontribusinya terhadap industri pertambangan nasional. Meski menghadapi tantangan operasional, optimisme tetap terjaga seiring dengan progres pemulihan tambang dan dukungan infrastruktur yang terus ditingkatkan menuju kapasitas produksi yang lebih optimal.

Terkini