JAKARTA - Gejolak pasar saham nasional kembali menjadi sorotan setelah Indeks Harga Saham Gabungan mengalami tekanan tajam dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Kondisi tersebut memicu perhatian berbagai pihak karena volatilitas yang terjadi dinilai cukup ekstrem. Situasi ini tidak hanya berdampak pada pergerakan indeks, tetapi juga memengaruhi psikologis investor di pasar modal Indonesia. Penilaian Morgan Stanley Capital International atau MSCI menjadi salah satu faktor yang memicu ketidakpastian tersebut.
Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah menilai otoritas pasar modal perlu merespons situasi ini dengan langkah yang lebih serius. Menurutnya, bursa dan Otoritas Jasa Keuangan harus menjadikan koreksi dari MSCI sebagai bahan evaluasi menyeluruh. Kepercayaan investor dinilai masih besar, tetapi harus dijaga dengan perbaikan yang nyata. Tanpa pembenahan, gejolak serupa berpotensi kembali terjadi.
Tekanan terhadap IHSG sempat memaksa Bursa Efek Indonesia menerapkan penghentian sementara perdagangan. Langkah ini diambil untuk meredam kepanikan pasar ketika indeks terkoreksi cukup dalam. Meski sempat terjadi perbaikan di akhir perdagangan, fluktuasi yang tinggi menunjukkan adanya persoalan struktural yang perlu dicermati lebih jauh. DPR menilai momentum ini harus dimanfaatkan untuk berbenah.
Sorotan DPR Terhadap Respons Otoritas Pasar
Said Abdullah menegaskan bahwa otoritas pasar tidak boleh menutup mata terhadap berbagai catatan yang disampaikan MSCI. Ia menyebut isu free float, likuiditas riil, serta transparansi emiten berkapitalisasi besar sebagai poin penting. Ketiga aspek tersebut dinilai berpengaruh besar terhadap kepercayaan investor global. Jika tidak dibenahi, pasar saham domestik akan terus rentan terhadap sentimen eksternal.
Menurut Said, nilai kapitalisasi pasar yang masih besar menunjukkan pelaku pasar sebenarnya masih percaya pada bursa Indonesia. Namun, kepercayaan itu harus diimbangi dengan tata kelola yang semakin baik. Otoritas pasar diminta membuka diri terhadap kritik dan masukan. Sikap defensif justru dapat memperburuk persepsi investor.
Ia menekankan bahwa pesan dari MSCI seharusnya dipandang sebagai koreksi konstruktif. Tujuannya bukan menjatuhkan pasar, melainkan mendorong perbaikan sistem. Dengan demikian, bursa saham Indonesia dapat tumbuh lebih sehat dan berkelanjutan. DPR berharap evaluasi dilakukan secara terbuka dan menyeluruh.
Dampak Gejolak IHSG Bagi Investor Ritel
Gejolak yang terjadi di pasar saham dinilai berdampak langsung pada investor ritel. Said menyoroti bahwa investor individu, terutama pemula, menjadi kelompok paling rentan. Modal yang relatif kecil dapat tergerus dalam waktu singkat akibat fluktuasi tajam. Kondisi ini berpotensi menimbulkan trauma bagi investor baru.
Menurutnya, dampak psikologis tersebut bisa membuat masyarakat enggan kembali berinvestasi di pasar saham. Padahal, selama ini berbagai pihak telah bekerja keras meningkatkan literasi keuangan. Upaya mendorong partisipasi investor ritel menjadi kurang optimal jika pasar tidak dikelola dengan transparan. Kejadian ini bisa menjadi kemunduran bagi perkembangan pasar modal nasional.
Said juga menyinggung persepsi lama bahwa perdagangan saham hanya dikendalikan segelintir pihak. Jika isu transparansi tidak segera dibenahi, persepsi tersebut akan semakin menguat. Hal ini tentu bertentangan dengan tujuan memperluas basis investor. Oleh karena itu, perlindungan terhadap investor ritel harus menjadi perhatian utama.
Perlunya Pembenahan Transparansi Dan Likuiditas
Isu transparansi menjadi salah satu fokus utama dalam penilaian MSCI. DPR menilai keterbukaan informasi emiten harus terus ditingkatkan. Investor membutuhkan data yang jelas dan akurat untuk mengambil keputusan. Tanpa transparansi, kepercayaan pasar akan mudah goyah.
Likuiditas riil juga menjadi perhatian karena mencerminkan kedalaman pasar. Jika likuiditas hanya semu, pergerakan harga saham menjadi mudah dipengaruhi. Kondisi ini berisiko menciptakan volatilitas berlebihan. Otoritas pasar diminta memastikan likuiditas yang sehat dan berkelanjutan.
Said menilai pembenahan administrasi dan regulasi perlu dilakukan secara konsisten. Tidak cukup hanya merespons ketika terjadi gejolak besar. Perbaikan sistem harus menjadi agenda jangka panjang. Dengan demikian, pasar saham Indonesia dapat lebih tahan terhadap tekanan global.
Sikap Kritis Terhadap Lembaga Pemeringkat Global
Meski mendorong perbaikan internal, DPR juga mengingatkan pentingnya sikap kritis terhadap lembaga pemeringkat global. Said menyebut bahwa tidak banyak lembaga pemeringkat sekelas MSCI di pasar modal internasional. Kondisi ini membuat penilaian mereka memiliki pengaruh besar. Namun, pengaruh besar tersebut tetap perlu disikapi secara jernih.
Ia mempertanyakan apakah lembaga pemeringkat sepenuhnya bebas dari kepentingan bisnis. Menurutnya, pertanyaan kritis bukan berarti menolak penilaian, tetapi sebagai upaya menjaga keseimbangan. Investor dan otoritas perlu membandingkan berbagai sudut pandang. Dengan begitu, keputusan yang diambil menjadi lebih objektif.
Said menilai praktik second opinion lazim dalam dunia bisnis. Kehadiran lembaga pembanding dapat memberikan perspektif tambahan. Hal ini penting agar investor tidak hanya disuguhi satu versi kebenaran. Pasar yang sehat membutuhkan informasi yang beragam dan berimbang.
Pendalaman Pasar Modal Dan Tantangan Ke Depan
Bursa saham Indonesia dinilai masih belum terlalu dalam jika dibandingkan dengan negara lain. OJK mencatat jumlah investor pasar modal terus bertambah dan didominasi kelompok usia muda. Kondisi ini menunjukkan potensi besar bagi pertumbuhan pasar. Namun, potensi tersebut harus diimbangi dengan sistem yang kredibel.
Said menilai perlu pembuktian lebih lanjut terhadap anggapan bahwa kepemilikan saham hanya dikuasai segelintir pihak. Data dan kajian yang transparan akan membantu meluruskan persepsi. Dengan basis investor yang semakin luas, pasar saham dapat menjadi lebih stabil. Otoritas diharapkan mampu memfasilitasi hal tersebut.
Ke depan, DPR berharap bursa dan OJK dapat menjadikan gejolak ini sebagai titik balik. Pembenahan regulasi, transparansi, dan edukasi investor harus berjalan seiring. Dengan langkah yang tepat, pasar saham Indonesia dapat kembali memperoleh kepercayaan. Stabilitas jangka panjang menjadi tujuan utama bagi seluruh pemangku kepentingan.