JAKARTA - Pergerakan harga batu bara global kembali menunjukkan tren positif pada awal 2026.
Kenaikan ini menjadi perhatian pelaku pasar energi, mengingat batu bara masih memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas pasokan listrik dunia. Di tengah transisi energi dan dorongan pemanfaatan sumber terbarukan, komoditas ini tetap menjadi tumpuan, khususnya bagi China yang kebutuhan energinya diprediksi kembali meningkat setelah sempat melambat pada tahun sebelumnya.
Kenaikan harga batu bara di pasar global
Harga batu bara tercatat mengalami penguatan pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026. Kenaikan ini mencerminkan optimisme pasar terhadap prospek permintaan di tahun mendatang, terutama dari negara dengan konsumsi energi terbesar di dunia.
Batu bara acuan Newcastle untuk pengiriman Januari 2026 naik sebesar US$ 0,85 persen ke level US$ 109,95 per ton. Kontrak Februari 2026 juga melesat US$ 0,85 menjadi US$ 112,2 per ton, sementara Maret 2026 terkerek US$ 0,8 hingga mencapai US$ 112,3 per ton.
Kondisi serupa juga terlihat di pasar Eropa. Harga batu bara Rotterdam untuk Januari 2026 meningkat US$ 0,5 menjadi US$ 97,85 per ton. Untuk kontrak Februari 2026, harga naik US$ 1,65 menjadi US$ 97 per ton. Adapun kontrak Maret 2026 mencatatkan kenaikan US$ 1,35 ke posisi US$ 95,5 per ton. Pergerakan ini menandakan sentimen positif yang cukup merata di berbagai bursa komoditas utama.
Peran China dalam dinamika pasar batu bara
China tetap menjadi faktor kunci dalam pembentukan harga batu bara dunia. Sebagai konsumen, produsen, sekaligus importir terbesar, setiap perubahan kebijakan dan proyeksi permintaan dari negara tersebut langsung berdampak pada pasar global.
Setelah permintaan listrik melemah sepanjang 2025, sejumlah analis memperkirakan konsumsi energi China akan kembali menguat pada 2026 seiring pemulihan aktivitas ekonomi.
Dikutip dari CoalHub, permintaan batu bara China diproyeksikan kembali meningkat sejalan dengan naiknya kebutuhan listrik nasional. Pertumbuhan ini tidak hanya didorong oleh sektor industri, tetapi juga konsumsi rumah tangga yang terus bertambah. Urbanisasi dan peningkatan standar hidup turut berkontribusi pada lonjakan penggunaan listrik di berbagai wilayah.
Lonjakan kebutuhan listrik dan faktor pendorongnya
Meningkatnya konsumsi listrik di China dipengaruhi oleh beberapa faktor strategis. Salah satunya adalah ekspansi pusat data yang pesat, seiring berkembangnya ekonomi digital.
Selain itu, beban listrik yang berkaitan dengan pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga semakin signifikan. Infrastruktur pendukung AI membutuhkan pasokan energi yang stabil dan besar, sehingga menambah tekanan pada sistem kelistrikan nasional.
Di sisi lain, penetrasi kendaraan listrik yang terus meningkat turut mendorong permintaan listrik. Meski kendaraan listrik bertujuan mengurangi emisi dari sektor transportasi, kebutuhan pengisian daya dalam skala besar justru meningkatkan konsumsi listrik secara keseluruhan.
Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat batu bara masih dianggap sebagai sumber energi yang dapat diandalkan untuk menjaga pasokan.
Keterbatasan energi terbarukan dan nuklir
Walaupun China agresif mengembangkan energi terbarukan dan nuklir, kedua sumber tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu menutupi lonjakan kebutuhan listrik, terutama pada periode beban puncak. Produksi listrik dari tenaga surya dan angin sangat bergantung pada kondisi cuaca, sementara pembangkit nuklir membutuhkan waktu dan investasi besar untuk beroperasi optimal.
Akibatnya, pembangkit listrik berbasis batu bara masih diperkirakan mempertahankan perannya dalam sistem kelistrikan China. Batu bara dianggap mampu memberikan pasokan listrik yang stabil, khususnya saat produksi energi terbarukan menurun. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa permintaan batu bara diprediksi tetap solid meski agenda transisi energi terus berjalan.
Rencana pembangunan pembangkit batu bara baru
Selain proyeksi permintaan, rencana pembangunan pembangkit listrik baru turut memperkuat prospek batu bara. Trading Economics melaporkan bahwa China bersiap meluncurkan lebih dari 100 pembangkit listrik tenaga batu bara pada tahun ini. Pembangkit-pembangkit tersebut diperkirakan akan memasok listrik untuk kebutuhan domestik sekaligus mendukung ekspor energi.
Langkah ini menunjukkan bahwa batu bara masih dipandang sebagai komponen penting dalam strategi energi nasional. Meski menuai kritik dari perspektif lingkungan, kebijakan tersebut dinilai realistis untuk menjaga ketahanan energi dan mendukung pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah.
Komitmen pengurangan batu bara dan tantangan ke depan
Di tengah penguatan harga dan rencana ekspansi pembangkit, China tetap menyatakan komitmennya untuk mengurangi penggunaan batu bara secara bertahap sebelum 2030. Komitmen ini sejalan dengan target penurunan emisi dan transisi menuju energi yang lebih bersih.
Namun, realisasinya diperkirakan akan berlangsung secara gradual, mengingat besarnya kebutuhan energi dan kompleksitas sistem kelistrikan.
Dengan demikian, pasar melihat batu bara masih akan memainkan peran penting dalam beberapa tahun ke depan. Kenaikan harga pada awal 2026 mencerminkan keseimbangan antara dorongan transisi energi dan realitas kebutuhan listrik yang terus tumbuh.
Selama permintaan China tetap kuat dan alternatif energi belum sepenuhnya menggantikan peran batu bara, komoditas ini diperkirakan tetap relevan dalam peta energi global.