Kemenag Perkuat Zakat Jadi Sistem Perlindungan Sosial Bencana Terpadu

Selasa, 13 Januari 2026 | 15:58:49 WIB
Kemenag Perkuat Zakat Jadi Sistem Perlindungan Sosial Bencana Terpadu

JAKARTA - Kementerian Agama memperkuat peran zakat sebagai instrumen utama dalam penanganan bencana di Sumatera. 

Transformasi zakat tidak lagi sebatas bantuan karitatif, tetapi menjadi sistem perlindungan sosial yang menyeluruh. Program ini diwujudkan melalui penyediaan makanan siap saji, layanan kesehatan, dan pembangunan rumah sementara bagi penyintas.

Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag, Waryono Abdul Ghafur, menegaskan pentingnya perubahan paradigma pengelolaan zakat. 

“Zakat tidak boleh berhenti sebagai respons darurat. Ia harus bekerja sebagai sistem perlindungan sosial umat,” ujarnya di Jakarta, Selasa, 9 Januari 2026. Sistem ini menjamin akses pangan, air bersih, pendidikan, listrik, dan konektivitas selama proses pemulihan.

Melalui sinergi nasional zakat, dana umat dikonversi menjadi intervensi terukur yang berkelanjutan. Sejak November 2025 hingga awal Januari 2026, telah disediakan 385 ribu porsi makanan siap saji dan dibangun 1.000 unit rumah sementara di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Langkah ini bertujuan memastikan keberlanjutan hidup penyintas di wilayah terdampak.

Sinergi Nasional Zakat untuk Pemenuhan Kebutuhan Dasar

Pada tahap tanggap darurat, sinergi zakat bersama Baznas dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) sangat krusial. Mereka memastikan kebutuhan dasar penyintas tetap terpenuhi di lapangan secara efektif. Tercatat 385.330 porsi makanan siap saji telah didistribusikan dengan rincian 276.656 di Aceh, 57.472 di Sumatera Utara, dan 51.202 di Sumatera Barat.

Selain makanan, zakat juga digunakan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga melalui distribusi 239.021 paket sembako dan logistik. 

Bantuan ini menjadi penyokong penting agar keluarga terdampak mampu bertahan di masa sulit. Dukungan ini juga menambah kekuatan masyarakat dalam menghadapi masa pemulihan.

Di sektor kesehatan, zakat mendukung layanan di 37 pos kesehatan yang tersebar di tiga provinsi terdampak. Pos tersebut telah melayani 10.497 jiwa dengan dukungan dari 5.874 relawan dan personel respons. Mereka bertugas memastikan bantuan kesehatan sampai dan berfungsi secara berkelanjutan.

Pembangunan Hunian Sementara dan Pelatihan Konstruksi

Memasuki fase pemulihan, zakat diarahkan pada intervensi yang lebih struktural dan berkelanjutan. Dompet Dhuafa membangun 1.000 unit rumah sementara di tiga provinsi terdampak. 

Dari jumlah tersebut, 200 unit ditargetkan selesai pada Januari 2026 untuk mempercepat proses pemulihan penyintas.

Selain itu, Rumah Zakat membangun 100 unit hunian sementara di Aceh Utara. Program ini juga dibarengi dengan pelatihan konstruksi kayu bagi warga lokal. Pelatihan ini bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat agar mereka lebih mandiri dalam memperbaiki dan membangun rumahnya sendiri.

Kegiatan pembangunan hunian ini tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga memberdayakan masyarakat. Pendekatan ini mendorong peran aktif warga dalam proses pemulihan dan mempercepat adaptasi pascabencana. Dengan demikian, masyarakat bisa bangkit lebih kuat secara sosial dan ekonomi.

Dukungan Layanan Dasar untuk Kelangsungan Hidup

Zakat juga dimanfaatkan untuk menjaga keberlanjutan layanan dasar di wilayah terdampak bencana. Di bidang pendidikan dan keagamaan, sudah disalurkan 29 ribu mushaf Al Quran dan buku Iqra serta 3.548 paket bantuan pendidikan bagi siswa. Bantuan ini memastikan proses belajar tetap berjalan meski kondisi sulit.

Dalam hal air bersih dan sanitasi, zakat mendukung distribusi 1,3 juta liter air bersih dan pembangunan 60 sumur bor. Selain itu, tersedia 10 unit alat filter air siap minum guna memastikan air yang dikonsumsi layak dan sehat. Program ini vital untuk menjaga kesehatan dan mencegah penyakit di masa darurat.

Untuk menjamin konektivitas wilayah terdampak, disediakan pula 35 unit genset dan 15 perangkat Starlink. Ketersediaan listrik dan akses internet menjadi kunci agar komunikasi dan layanan berjalan lancar. Ini membantu masyarakat tetap terhubung dengan dunia luar serta mempermudah koordinasi bantuan.

Zakat sebagai Instrumen Kebijakan Sosial-Keagamaan

Waryono Abdul Ghafur menegaskan bahwa pendekatan baru ini mengubah zakat menjadi instrumen kebijakan sosial-keagamaan yang strategis. 

“Zakat tidak lagi semata bergerak berdasarkan empati sesaat,” ujarnya. Ia menjelaskan zakat kini menopang daya tahan masyarakat di tengah krisis kompleks dan berulang.

Peran zakat yang diperkuat diharapkan memberikan dampak jangka panjang dalam pengelolaan bencana. Ini mengintegrasikan zakat dengan sistem perlindungan sosial nasional yang lebih terstruktur. Pendekatan ini juga meningkatkan efektivitas penanganan dan pemulihan bencana secara menyeluruh.

Dengan sistem yang terorganisir, zakat dapat berkontribusi optimal untuk menjaga keberlanjutan hidup dan mempercepat pemulihan. 

Upaya ini menjadi contoh nyata sinergi antara keagamaan dan kebijakan sosial dalam menghadapi tantangan masa depan. Kemenag terus berkomitmen memajukan peran zakat sebagai penguatan sosial-keagamaan nasional.

Terkini