IHSG

IHSG Sesi I Melemah 0,31 Persen Dipicu Sentimen Global dan Fiskal

IHSG Sesi I Melemah 0,31 Persen Dipicu Sentimen Global dan Fiskal
IHSG Sesi I Melemah 0,31 Persen Dipicu Sentimen Global dan Fiskal

JAKARTA - Tekanan di pasar saham domestik belum sepenuhnya reda pada akhir Sesi I perdagangan Jumat 27 Februari 2026. 

Meski sempat terperosok tajam di awal sesi, laju Indeks Harga Saham Gabungan akhirnya mampu memangkas sebagian besar pelemahan. Koreksi yang sebelumnya mendekati dua persen berangsur menyusut menjadi jauh lebih terbatas.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup Sesi I di zona merah usai melemah 0,31% di posisi 8.209 pada Jumat. Adapun IHSG sempat mencatatkan pelemahan hingga nyaris 2% pada perdagangan pagi hari tadi.

Sepanjang paruh pertama perdagangan, pergerakan indeks tergolong fluktuatif dengan rentang yang cukup lebar. Pelaku pasar terlihat melakukan aksi jual sejak pembukaan, sebelum sebagian investor memanfaatkan harga murah untuk melakukan akumulasi selektif. Kondisi ini membuat pelemahan tidak sedalam tekanan di awal sesi.

Posisi terendah IHSG sepanjang hari menyentuh 8.093 sedang tertingginya sempat 8.219. Volume perdagangan melibatkan 26,48 miliar saham. Dengan nilai perdagangan Rp11,26 triliun, dan frekuensi 1,5 juta kali diperjualbelikan.

Tekanan sektoral dan pergerakan saham

Tercatat ada pelemahan 420 saham, dan sebanyak 239 saham terjadi penguatan. Sisanya 156 saham stagnan. Komposisi tersebut mencerminkan tekanan yang masih mendominasi, meski terdapat sejumlah saham yang mencoba bangkit.

Saham–saham transportasi, saham keuangan, dan saham infrastruktur menjadi pemberat pelemahan IHSG, dengan melemah mencapai 1,53%, 0,79% dan 0,64%. Sebaliknya, saham perindustrian berhasil menguat 3,33% hingga menjadi pendorong terpangkasnya pelemahan IHSG.

Menguatnya sektor perindustrian memberikan bantalan signifikan bagi indeks. Kenaikan di sektor ini membantu menahan tekanan dari sektor keuangan yang biasanya menjadi tulang punggung pergerakan IHSG. Rotasi sektor terlihat jelas, dengan investor beralih ke saham-saham tertentu yang dinilai masih memiliki momentum.

Terlebih lagi, saham berbobot besar, PT MD Entertainment Tbk (FILM) berhasil menguat 900 poin (11,39%) ke Rp8.800/saham pada jeda perdagangan. Begitu juga dengan saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) yang menguat 1.075 poin (6,73%) ke posisi Rp17.025/saham.

Kontributor penguatan dan penekan indeks

Terbatasnya pelemahan IHSG tak lepas dari kenaikan dan rebound sejumlah saham big caps. Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg:

MD Entertainment (FILM) menyumbang 7,19 poin
Amman Mineral Internasional (AMMN) menyumbang 6,85 poin
Impack Pratama Industri (IMPC) menyumbang 4,28 poin
Bakrie and Brothers (BNBR) menyumbang 4,16 poin
Merdeka Copper Gold (MDKA) menyumbang 2,1 poin
Vale Indonesia (INCO) menyumbang 1,69 poin
Pertamina Gas Negara (PGAS) menyumbang 1,64 poin
Energi Mega Persada (ENRG) menyumbang 1,51 poin
Merdeka Battery Materials (MBMA) menyumbang 1,31 poin
Gudang Garam (GGRM) menyumbang 0,79 poin

Sumbangan poin dari saham-saham tersebut menjadi faktor penting yang membuat koreksi indeks tidak semakin dalam. Rebound pada beberapa emiten komoditas dan energi ikut menopang sentimen pasar di tengah tekanan eksternal.

Namun, rebound IHSG dibatasi koreksi berbagai saham. Di antaranya sebagai berikut:

Bank Central Asia (BBCA) mengurangi 9,5 poin
Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengurangi 7,88 poin
Telkom Indonesia (TLKM) mengurangi 6,33 poin
Dian Swastatika Sentosa (DSSA) mengurangi 5,23 poin
Astra International (ASII) mengurangi 5,13 poin

Tekanan pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi hambatan utama bagi pemulihan indeks. Ketika saham bank melemah, dampaknya terhadap IHSG cenderung signifikan mengingat bobotnya yang besar dalam perhitungan indeks.

Sentimen fiskal dan respons pasar

Diketahui, penyebab pelemahan IHSG yang amat dalam tersengat sentimen S&P Global Ratings yang kembali menegaskan kecemasannya terhadap kondisi fiskal Indonesia, utamanya terkait meningkatnya biaya pembayaran bunga utang dan pelebaran defisit.

S&P mencatat, pembayaran bunga utang kemungkinan telah melampaui 15% dari total penerimaan negara — ambang batas risiko yang menjadi perhatian utama. Biarpun Indonesia masih mempertahankan peringkat BBB dengan outlook stabil, tekanan yang berlanjut dapat memicu revisi outlook menjadi negatif.

Hal ini menyusul penurunan outlook oleh Moody’s serta sorotan MSCI terkait tata kelola dan transparansi pasar. Kombinasi faktor tersebut membuat investor asing dan domestik cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi.

Andrey Wijaya Head of Research RHB Sekuritas Indonesia menyebut, sikap S&P ini relatif sudah terantisipasi, sejalan dengan kekhawatiran Moody’s mengenai disiplin fiskal dan kejelasan kebijakan.

“Hal ini menegaskan pentingnya peningkatan transparansi pengelolaan APBN serta pengendalian defisit yang lebih tegas untuk menjaga kredibilitas,” papar Andrey dalam riset terbarunya.

Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan IHSG pada Sesi I menunjukkan bahwa tekanan masih ada, namun mulai menemukan titik keseimbangan. Investor kini menanti kejelasan kebijakan dan stabilitas makroekonomi sebagai penopang arah indeks selanjutnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index