obil Listrik

Ambisi VinFast Auto Menaklukkan Pasar Mobil Listrik Indonesia 2026

Ambisi VinFast Auto Menaklukkan Pasar Mobil Listrik Indonesia 2026
Ambisi VinFast Auto Menaklukkan Pasar Mobil Listrik Indonesia 2026

JAKARTA - Harga saham VinFast Auto Ltd. (VFS) sejak awal tahun hingga 20 Februari 2026 (year to date) menyusut sebesar 0,13% atau menjadi US$3,25 per saham. 

Saham VFS pada 2023 tercatat di bursa efek Nasdaq, Amerika Serikat.

Meski pergerakan saham relatif stagnan, kinerja operasional perseroan justru menunjukkan akselerasi. VinFast Auto menjual mobil listrik sebanyak 110,362 unit pada Januari-September 2025 atau melonjak sebesar 149% jika dibandingkan periode yang sama di 2024.

Sedangkan, pengiriman kendaraan roda dua listrik atau sepeda motor elektrik meroket sebesar 489%, menjadi 234,536 unit di periode tersebut. Lonjakan ini menjadi indikator bahwa permintaan kendaraan listrik terus menguat, terutama di kawasan Asia.

VFS memproduksi tiga jenama mobil listrik, yaitu VinFast, Green Series, dan Lac Hong. Ketiga brand ini membidik segmen tertentu. Misalnya, Lac Hong menyasar konsumen di segmen premium.

Adapun, VFS pada Januari-September tahun lalu itu membukukan pendapatan US$2,02 miliar, melejit sebesar 85% dari US$1,09 miliar pada periode yang sama di 2024. Capaian tersebut memperlihatkan konsistensi ekspansi bisnis yang agresif namun terukur.

Ekspansi Produksi dan Strategi Global

Andres Sheppard dan Anand Balaji, analis di Cantour, menjabarkan VFS membangun pabrik perakitan mobil listrik di Indonesia. Kapasitas produksinya sebanyak 50 ribu unit per tahun.

Sheppard dan Balaji, pada riset yang dipublikasikan pada 21 November tahun lalu itu, menjabarkan pabrik VFS di Indonesia ini memproduksi mobil listrik VinFast VF3, VF5, VF6, VF7 dan model lainnya. Kehadiran lini produksi ini mempertegas fokus VFS pada pasar Asia Tenggara.

Pabrik VFS di Indonesia itu menambah fasilitas produksi VFS yang beroperasi di Vietnam dan India. VinFast Auto memiliki pabrik di Hải Phòng yang kapasitas produksinya 300 ribu unit/tahun, Hà Tĩnh berkapasitas 200 ribu unit/tahun, dan India (50 ribu unit per tahun).

“Total kapasitas produksi VinFast mencapai 600 ribu unit per tahun di empat pabrik itu,” tutur Sheppard dan Balaji.

Mereka memproyeksiksan VFS bakal memasok kendaraan listrik sebanyak 173,650 unit di sepanjang 2025 atau melampaui realisasi di 2024 yang sebanyak 97,399 unit. “Untuk tahun 2026, VFS diproyeksikan mengirim mobil listrik sebanyak 211,391 unit,” ucapnya.

Subang sebagai Titik Transformasi Industri

Adapun, VinFast Indonesia, perusahaan yang terafiliasi VFS, membangun pabrik mobil di Subang, Jawa Barat. Peresmian pabrik VinFast pada 15 Desember 2025 itu bukan sekadar seremoni pemotongan pita.

Di antara pepohonan yang membatasi pandangan ke jalan tol Cipali, berdiri sebuah simbol transformasi mobilitas yang hari itu disaksikan langsung oleh para pemegang kebijakan negeri ini. Momentum tersebut menjadi penanda babak baru industri otomotif nasional.

Kehadiran VinFast di Indonesia bukan bermula di Subang, melainkan di Haiphong, Vietnam, pada dua tahun silam. Pham Sanh Chau, CEO VinFast Asia, mengenang perjalanan itu sebagai sebuah persilangan sejarah.

Kala itu, Presiden RI ke-7, Joko Widodo, saat berkunjung ke Vietnam, terkesima melihat kecanggihan teknologi VinFast dan mengundang mereka untuk menanam modal di Tanah Air.

"Hubungan kami dengan Indonesia sangat panjang, jauh sejak era Presiden Ho Chi Minh dan Konferensi Asia Afrika di Bandung 1955," kenang Chau. Baginya, Indonesia adalah mitra strategis dengan ambisi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%.

"Di Asia, kami memilih India dan Indonesia sebagai destinasi utama. Indonesia adalah salah satu yang terus tumbuh,” katanya pada Senin.

Komitmen Investasi dan Tingkat Komponen Lokal

Bagi warga Subang, kehadiran VinFast adalah napas baru. Dengan investasi tahap awal sebesar US$300 juta yang akan membengkak hingga US$1 miliar dalam masa mendatang, kawasan ini sedang bersiap menjadi salah satu pusat industri electric vehicle (EV) tercanggih di Asia Tenggara.

Namun, investasi bukan hanya soal angka di atas kertas. VinFast memahami bahwa untuk menjadi bagian dari Indonesia, mereka harus bersama Indonesia.

Kariyanto Hardjosoemarto, CEO VinFast Indonesia, memaparkan peta jalan lokalisasi yang ambisius namun terukur. Pada tahap pertama, pabrik VinFast akan memproduksi 50 ribu unit per tahun dan akan menyerap ribuan tenaga kerja.

VinFast menegaskan komitmennya pada pembukaan lapangan kerja untuk talenta lokal dan siap meningkatkan kapasitas SDM lokal. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang membangun fondasi industri yang berkelanjutan.

Lalu, VinFast menargetkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) akan mencapai lebih dari 40% pada 2026. Angka ini tidak akan berhenti di sana, komitmen tersebut akan terus menanjak hingga 60% pada 2029, dan mencapai di angka 80% tahun 2030.

Sebuah janji yang selaras dengan garis kebijakan pemerintah Indonesia untuk menjadikan negeri ini mandiri di jalur hijau. Strategi ini juga memperkuat integrasi rantai pasok domestik dalam industri kendaraan listrik.

Strategi Ekosistem dan Dukungan Pemerintah

Di sisi lain, Kariyanto sadar, masyarakat sering kali skeptis terhadap pendatang baru, terutama lini kendaraan listrik. Maka, ia memaparkan strategi ekosistem tanpa cemas ala VinFast.

Pertama, melalui V-Green, VinFast membangun lebih dari 2.000 titik pengisian daya (charging station) dan akan tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Infrastruktur ini menjadi fondasi penting dalam mempercepat adopsi EV.

Kedua keberanian purna jual lantaran pabrikan otomotif asal Vietnam ini menyodorkan program Resale Value Guarantee yang menjamin harga jual kembali hingga 70% setelah tiga tahun penggunaan. Skema ini dirancang untuk menekan kekhawatiran depresiasi.

Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, mengapresiasi terhadap ketepatan waktu VinFast dalam membangun fasilitas produksinya di Indonesia.

"Proyek ini sejalan dengan agenda pengembangan industri hijau nasional," ujar Airlangga. Dia mengatakan VinFast bukan sekadar pabrik mobil, ia adalah motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah yang akan memicu penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kualitas sumber daya manusia secara massif.

Sindikasi Perbankan Perkuat Pembiayaan

Langkah konkrit VinFast untuk memperkuat industri kendaraan listrik Indonesia semakin berdenyut. Salah satunya melalui pembiayaan besar-besaran bagi infrastruktur produksi mobil listrik.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) atau BNI mengambil posisi strategis dengan memimpin kredit sindikasi senilai Rp1,8 triliun untuk mendukung pembangunan pabrik PT VinFast Automobile Indonesia di Subang, Jawa Barat.

BNI bertindak sebagai Mandated Lead Arrangers and Bookrunner (MLAB) dalam kesepakatan sindikasi ini, berbagi peran dengan PT Bank Maybank Indonesia Tbk. Dari total nilai kredit Rp1,84 triliun, BNI menguasai porsi dominan, yakni Rp1,51 triliun.

“Ini bukan hanya tentang pembiayaan. Ini tentang keyakinan akan visi yang lebih besar tentang inovasi, keberlanjutan dan masa depan industri kendaraan listrik. Kerja sama ini bisa membawa kita bergerak lebih cepat, lebih jauh serta memberikan dampak nyata," kata Agung Prabowo, Direktur Corporate Banking BNI.

Pabrik VinFast di Subang itu dirancang untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga menjadi basis produksi untuk ekspor. Kehadiran fasilitas ini diharapkan memperkuat rantai pasok industri otomotif nasional, membuka lapangan kerja baru, dan mempercepat adopsi kendaraan listrik di tanah air.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index