JAKARTA - Upaya pembiayaan berkelanjutan semakin menjadi perhatian pelaku industri keuangan nasional.
Seiring meningkatnya kebutuhan pendanaan untuk program yang berdampak sosial dan lingkungan, PT Pegadaian (Persero) menyiapkan langkah strategis dengan membuka akses pendanaan eksternal berbasis ESG. Salah satu instrumen yang disiapkan adalah penerbitan obligasi sosial dengan nilai signifikan sepanjang 2026.
Perseroan memproyeksikan kebutuhan dana untuk mendukung berbagai inisiatif lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG hingga mencapai Rp 10 triliun. Pendanaan tersebut akan digunakan untuk menopang program berkelanjutan yang selaras dengan peran Pegadaian dalam memperluas inklusi keuangan dan pemberdayaan masyarakat.
Kebutuhan dana untuk inisiatif ESG pada 2026 akan dipenuhi melalui kombinasi arus kas internal serta instrumen pembiayaan berkelanjutan. Instrumen yang dimaksud meliputi obligasi dan sukuk berwawasan sosial yang direncanakan diterbitkan secara bertahap, menyesuaikan kebutuhan dan kondisi pasar.
Strategi pendanaan berkelanjutan Pegadaian
Direktur Keuangan dan Perencanaan Strategis PT Pegadaian, Ferdian Timur Satyagraha, menjelaskan bahwa rincian nilai penerbitan akan mengikuti finalisasi RKAP dan pipeline proyek ESG. Namun, secara prinsip, perusahaan menargetkan porsi pembiayaan berkelanjutan terus meningkat dari tahun ke tahun.
“Besaran rinciannya akan mengikuti finalisasi RKAP dan pipeline proyek ESG, tetapi prinsipnya Pegadaian menargetkan porsi pembiayaan berkelanjutan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, selaras dengan sasaran dan roadmap keberlanjutan perusahaan,” kata Ferdian.
Pendekatan ini mencerminkan komitmen Pegadaian dalam menjadikan ESG sebagai bagian dari strategi pendanaan jangka menengah. Instrumen pembiayaan berwawasan sosial dipandang bukan sekadar alternatif, melainkan fondasi untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Obligasi jatuh tempo dan rencana penerbitan baru
Pada 2026, Pegadaian juga menghadapi kewajiban obligasi sosial yang akan jatuh tempo. Obligasi Berwawasan Sosial Berkelanjutan I Pegadaian Tahap II Tahun 2025 Seri A senilai Rp 954,2 miliar dijadwalkan jatuh tempo pada Juni dengan kupon 6,65%.
Sejalan dengan itu, perseroan membuka peluang untuk kembali menerbitkan obligasi sosial sebagai bagian dari strategi pendanaan. “Sejalan dengan komitmen kami terhadap pembiayaan berkelanjutan, Pegadaian berencana untuk kembali menerbitkan obligasi berwawasan sosial sebagai bagian dari strategi pendanaan dan penguatan portofolio instrumen ESG,” ujar Ferdian.
Pegadaian menilai instrumen social financing sebagai strategi fundamental pendanaan jangka menengah. Oleh karena itu, opsi penerbitan efek utang berwawasan sosial akan tetap terbuka dengan pendekatan market-driven, mempertimbangkan likuiditas pasar, stabilitas suku bunga, serta efektivitas perizinan regulator.
Target nilai dan waktu penerbitan
Secara keseluruhan, total rencana penerbitan surat utang berwawasan sosial Pegadaian pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp 10 triliun. Dana tersebut ditujukan untuk menjaga struktur pendanaan yang sehat sekaligus mendukung pembiayaan usaha berorientasi keberlanjutan.
Penerbitan obligasi dan sukuk akan dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan pendanaan dan pipeline proyek. Fokus utamanya adalah mendukung produk-produk sosial Pegadaian serta berbagai inisiatif keberlanjutan yang telah tercantum dalam roadmap ESG perusahaan.
Secara indikatif, Pegadaian melihat kuartal II, kuartal III, dan kuartal IV 2026 sebagai jendela waktu potensial untuk penerbitan. Namun, keputusan final tetap bergantung pada dinamika pasar dan minat investor pada saat transaksi dilakukan.
“Tentunya, dengan tetap mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar, suku bunga, serta appetite investor saat itu,” kata Ferdian.
Penentuan kupon dan daya tarik investor
Penentuan kupon obligasi berwawasan sosial Pegadaian akan mengacu pada kondisi pasar dan kurva imbal hasil saat bookbuilding. Faktor lain yang dipertimbangkan meliputi peringkat kredit AAA, tenor, serta karakteristik investor yang dibidik.
Dalam penerbitan sebelumnya, indikasi kupon obligasi dan sukuk berwawasan sosial Pegadaian berada dalam rentang kompetitif dibandingkan instrumen korporasi dengan peringkat serupa. Premi yang ditawarkan juga relatif kompetitif terhadap benchmark obligasi pemerintah.
“Struktur kupon ke depan akan disesuaikan dengan yield acuan dan spread pasar pada saat transaksi dilakukan, sehingga tetap menarik bagi investor namun tetap efisien dari sisi biaya pendanaan perseroan,” ujar Ferdian.
Nilai tambah dan permintaan pasar
Obligasi bertema ESG memberikan sejumlah nilai tambah dibanding obligasi konvensional. Instrumen ini membuka akses ke basis investor yang lebih luas, khususnya investor institusi dengan mandat atau preferensi terhadap instrumen berwawasan sosial dan berkelanjutan.
Selain itu, penerbitan obligasi ESG memperkuat citra dan kredibilitas perusahaan sebagai emiten yang bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan tren investasi berkelanjutan yang berkembang pesat, baik di Indonesia maupun secara global.
“Karena secara prinsip, obligasi bertema ESG memberikan nilai tambah dari sisi reputasi dan positioning perusahaan sebagai entitas yang menjalankan praktik bisnis berkelanjutan secara komprehensif,” kata Ferdian.
Instrumen ini juga mendorong disiplin internal perusahaan dalam menetapkan dan melaporkan indikator kinerja ESG terkait penggunaan dana. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar instrumen berkelanjutan menunjukkan permintaan yang kuat, tercermin dari oversubscription pada sejumlah penerbitan pemerintah dan korporasi.
Fokus inisiatif ESG Pegadaian 2026
Pada 2026, Pegadaian akan melanjutkan penguatan implementasi ESG dengan fokus utama pada pilar sosial berkelanjutan. Fokus ini mencakup penguatan inklusi keuangan, pembiayaan usaha mikro dan ultra mikro, serta program sosial yang memberikan dampak langsung dan terukur bagi masyarakat.
“Pada tahun 2026, dalam perspektif pembiayaan, fokus utama ESG Pegadaian berada pada pilar sosial berkelanjutan,” ujar Ferdian.
Selain itu, perusahaan juga mendorong peningkatan efisiensi energi dan pengurangan emisi melalui perluasan penggunaan energi terbarukan serta inisiatif operasional hijau di jaringan kantor. Penguatan tata kelola dan manajemen risiko ESG turut menjadi prioritas, termasuk penyempurnaan roadmap, baselining, dan gap analysis terhadap standar internasional.
Langkah-langkah tersebut diharapkan memperkuat posisi Pegadaian sebagai institusi keuangan yang tidak hanya berorientasi pada kinerja finansial, tetapi juga pada keberlanjutan dan dampak sosial jangka panjang.