JAKARTA - Penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M mencatat tonggak penting dalam sejarah pelayanan jemaah Indonesia.
Untuk pertama kalinya, jumlah petugas haji perempuan mencapai 33 persen dari total keseluruhan petugas. Capaian ini dinilai sebagai langkah signifikan dalam memperkuat perlindungan, kenyamanan, serta kualitas layanan bagi jemaah, khususnya perempuan dan lansia.
Selama bertahun-tahun, keterbatasan jumlah petugas haji perempuan menjadi salah satu catatan evaluasi penyelenggaraan haji. Padahal, komposisi jemaah haji Indonesia menunjukkan dominasi perempuan. Dengan peningkatan ini, pemerintah berharap penyelenggaraan haji dapat semakin responsif terhadap kebutuhan riil jemaah di lapangan.
Jumlah Petugas Perempuan Jadi Sorotan Penting
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, mengungkapkan bahwa peningkatan jumlah petugas haji perempuan merupakan hasil dari perhatian serius pemerintah. Ia menegaskan bahwa selama ini isu keterbatasan petugas perempuan terus menjadi pembahasan dalam evaluasi haji.
Data menunjukkan sekitar 55 persen jemaah haji Indonesia setiap tahunnya adalah perempuan. Bahkan, pada kelompok jemaah lansia, jumlah perempuan tercatat lebih banyak dibandingkan lansia laki-laki. Kondisi tersebut menuntut kehadiran petugas perempuan yang memadai agar pelayanan berjalan optimal dan sensitif terhadap kebutuhan jemaah.
“Jumlah petugas haji perempuan tahun ini 33%, jumlah terbanyak sepanjang sejarah pelaksanaan haji di Indonesia. Tolong tunjukkan kualitas yang baik, pelayanan yang baik untuk tamu-tamu Allah,” ujar Arifatul dalam rangkaian pendidikan dan pelatihan atau Diklat Petugas Haji 1447 H/2026 M, Rabu (28/1/2026).
Peran Strategis Bagi Jemaah Perempuan Dan Lansia
Keberadaan petugas haji perempuan dinilai memiliki peran strategis, terutama bagi jemaah perempuan dan lansia. Dalam situasi ibadah haji yang padat dan menuntut kesiapan fisik maupun mental, kehadiran petugas yang memahami kebutuhan spesifik jemaah menjadi sangat penting.
Arifatul menekankan bahwa jemaah akan merasa lebih aman dan nyaman ketika melihat petugas perempuan berada di sekeliling mereka. Kondisi ini membuat jemaah tidak sungkan untuk bertanya, meminta bantuan, atau menyampaikan keluhan, terutama dalam situasi darurat.
Ketika terjadi kondisi kesehatan yang mendesak, seperti jemaah sakit atau kelelahan, petugas haji dituntut mampu mengambil keputusan cepat. “Dalam kondisi darurat maka petugas haji harus bisa menentukan apa yang harus dilakukan,” ujar Arifatul menegaskan pentingnya kesiapsiagaan petugas di lapangan.
Pelayanan Haji Bukan Sekadar Teknis Ibadah
Arifatul juga mengingatkan bahwa penyelenggaraan haji tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis ibadah. Lebih dari itu, haji merupakan bentuk layanan publik yang harus dijalankan secara berkeadilan dan bermartabat. Oleh sebab itu, kualitas sumber daya manusia menjadi kunci utama keberhasilan pelayanan.
Ia menegaskan bahwa tugas petugas haji menuntut dedikasi tinggi dan keikhlasan. Pelayanan yang diberikan harus berangkat dari hati dan tidak boleh dilakukan setengah-setengah. Prinsip tersebut menjadi dasar dalam membangun kepercayaan jemaah terhadap negara.
“Memberikan layanan harus berangkat dari hati, di sana enggak boleh main-main,” ujarnya. Pesan ini menjadi penegasan bahwa petugas haji memegang amanah besar dalam melayani jutaan jemaah Indonesia di Tanah Suci.
Tema Haji Ramah Perempuan Dan Lansia
Pada penyelenggaraan haji tahun ini, pemerintah mengusung tema Haji Ramah Perempuan dan Lansia. Tema tersebut mencerminkan komitmen negara untuk menghadirkan penyelenggaraan haji yang inklusif dan berorientasi pada perlindungan kelompok rentan.
Melalui tema ini, berbagai kebijakan diarahkan untuk memastikan keamanan, kenyamanan, serta perlindungan maksimal bagi seluruh jemaah. Peningkatan jumlah petugas haji perempuan menjadi salah satu wujud nyata dari implementasi tema tersebut.
“Haji Ramah Perempuan dan Lansia adalah komitmen negara menghadirkan keamanan, kenyamanan, dan perlindungan bagi seluruh jemaah,” ujar Arifatul. Pernyataan ini menegaskan bahwa kehadiran petugas perempuan bukan sekadar angka, melainkan bagian dari kebijakan strategis.
Harapan Terhadap Kualitas Pelayanan Petugas
Dengan meningkatnya jumlah petugas haji perempuan, harapan terhadap kualitas pelayanan juga semakin besar. Pemerintah menekankan bahwa kuantitas harus sejalan dengan kualitas. Setiap petugas diharapkan mampu menjalankan tugas secara profesional dan humanis.
Melalui pendidikan dan pelatihan yang diberikan, petugas haji dibekali kemampuan teknis, pengetahuan lapangan, serta kesiapan mental. Hal ini penting agar mereka mampu menghadapi berbagai situasi selama penyelenggaraan ibadah haji.
Ke depan, peningkatan partisipasi petugas perempuan diharapkan menjadi standar baru dalam penyelenggaraan haji Indonesia. Dengan pelayanan yang semakin ramah, adil, dan bermartabat, jemaah diharapkan dapat menjalankan ibadah dengan tenang, aman, dan khusyuk.