Transportasi

KLH Dorong Mahasiswa Percepat Transportasi Rendah Emisi Demi Target Iklim Nasional

KLH Dorong Mahasiswa Percepat Transportasi Rendah Emisi Demi Target Iklim Nasional
KLH Dorong Mahasiswa Percepat Transportasi Rendah Emisi Demi Target Iklim Nasional

JAKARTA - Upaya menekan laju perubahan iklim tidak lagi bisa bertumpu pada kebijakan pemerintah semata. 

Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim global, keterlibatan generasi muda dinilai semakin krusial, terutama dalam sektor transportasi yang menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menilai mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan untuk mendorong transformasi menuju sistem transportasi rendah emisi yang berkelanjutan.

Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Haruki Agustina, menegaskan bahwa pencapaian target penurunan emisi nasional sangat bergantung pada keberhasilan sektor transportasi. 

Oleh karena itu, pengembangan kepemimpinan mahasiswa di bidang transportasi berkelanjutan dipandang sebagai langkah penting untuk memperkuat aksi mitigasi perubahan iklim yang konkret dan berkelanjutan di masa depan.

Transportasi Jadi Penentu Target Penurunan Emisi

Menurut Haruki, sektor transportasi merupakan salah satu kontributor utama emisi gas rumah kaca di Indonesia. Kondisi ini menjadikan transportasi sebagai sektor strategis yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam kebijakan iklim nasional. Tanpa perubahan signifikan pada pola mobilitas masyarakat, target penurunan emisi akan sulit tercapai secara optimal.

“Sektor transportasi merupakan salah satu kontributor utama emisi gas rumah kaca. Karena itu, diperlukan pemimpin-pemimpin muda yang mampu menghadirkan gagasan, inovasi, dan aksi nyata untuk mendorong transformasi menuju transportasi rendah emisi,” katanya saat menghadiri Booth Camp Future Leaders in Sustainable Transport (FIRST) yang diselenggarakan World Resources Institute (WRI) Indonesia di Jakarta, Senin.

Ia menambahkan bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam menghadirkan pendekatan baru yang lebih adaptif terhadap tantangan lingkungan. Dengan latar belakang akademik dan semangat inovasi, mahasiswa diharapkan mampu menjadi motor penggerak perubahan di tingkat lokal hingga nasional.

Komitmen Nasional Dalam Kerangka NDC

Haruki menjelaskan bahwa komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi telah tertuang dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC). Dokumen tersebut menjadi peta jalan pembangunan rendah karbon yang mengarahkan berbagai sektor untuk berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim, termasuk sektor transportasi.

Dalam kerangka NDC, transportasi diposisikan sebagai subsektor strategis yang menuntut perubahan pola mobilitas masyarakat. Transformasi ini mencakup peralihan ke angkutan umum massal, integrasi antarmoda, elektrifikasi kendaraan, serta penguatan moda transportasi ramah lingkungan seperti berjalan kaki dan bersepeda.

Perubahan tersebut tidak hanya membutuhkan regulasi, tetapi juga dukungan sosial dan perubahan perilaku masyarakat. Di sinilah peran generasi muda, khususnya mahasiswa, dinilai sangat penting untuk menjembatani kebijakan dengan implementasi nyata di lapangan.

Kolaborasi Jadi Kunci Aksi Iklim

Pemerintah, menurut Haruki, tidak dapat bekerja sendiri dalam mencapai target penurunan emisi. Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan akademisi, dunia usaha, masyarakat sipil, dan generasi muda. Kerja sama ini diharapkan mampu mempercepat adopsi solusi transportasi berkelanjutan di berbagai daerah.

Keterlibatan mahasiswa menjadi semakin relevan mengingat tantangan perubahan iklim bersifat lintas disiplin. Mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan dapat berkontribusi melalui riset, kampanye publik, hingga inovasi teknologi yang mendukung transportasi rendah emisi.

“Khusus bagi kalangan mahasiswa diharapkan mampu menjembatani visi kebijakan nasional dengan implementasi di tingkat lokal melalui riset, kampanye, dan inovasi transportasi berkelanjutan,” cetusnya.

Ancaman Kenaikan Suhu Global

Urgensi transformasi sektor transportasi juga diperkuat oleh data ilmiah global. Haruki mengutip kajian Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang mencatat lonjakan suhu permukaan bumi sejak 1970 hingga 2023 mencapai 1,45 derajat Celsius. Angka ini menunjukkan bahwa dunia semakin mendekati ambang batas peningkatan suhu global yang disepakati dalam Paris Agreement 2015.

Batas peningkatan suhu permukaan bumi yang disepakati negara-negara dunia, termasuk Indonesia, adalah 1,5 derajat Celsius. Dengan selisih hanya 0,05 derajat, risiko dampak perubahan iklim ekstrem semakin nyata. Dalam konteks ini, sektor transportasi disebut sebagai salah satu penyumbang terbesar emisi yang mempercepat kenaikan suhu global.

Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa upaya mitigasi tidak bisa ditunda. Transformasi transportasi rendah emisi harus segera diwujudkan melalui kebijakan, teknologi, dan perubahan perilaku masyarakat secara simultan.

Program FIRST Cetak Pemimpin Muda Transportasi Berkelanjutan

Sebagai bagian dari upaya mendorong peran generasi muda, KLH mendukung pelaksanaan program Future Leaders in Sustainable Transport (FIRST). Program ini didukung oleh lembaga kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Inggris, serta diikuti oleh 30 mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Peserta program berasal dari Jabodetabek, Medan, Bandung, Semarang, Surabaya, hingga Makassar. Keberagaman latar belakang wilayah ini diharapkan dapat memperkaya perspektif dan solusi yang dihasilkan dalam pengembangan transportasi berkelanjutan.

Selama satu pekan penuh, para peserta mendapatkan pendampingan intensif dari instruktur profesional yang berasal dari lembaga pemerintah maupun swasta multinasional. Materi yang diberikan mencakup teknologi dan inovasi digital, kebijakan dan regulasi, serta aspek kebudayaan dalam pembangunan transportasi rendah emisi.

Program ini dirancang sebagai wadah pengembangan kepemimpinan mahasiswa agar siap menjadi generasi masa depan yang aktif mendorong transformasi transportasi berkelanjutan di Indonesia.

Harapan Mewujudkan Kota Layak Huni

Haruki berharap para peserta program FIRST dapat berperan sebagai agent of change di lingkungan masing-masing. Dengan bekal pengetahuan dan jejaring yang diperoleh, mahasiswa diharapkan mampu memperkuat upaya mitigasi iklim di sektor transportasi secara nyata.

Lebih jauh, kontribusi generasi muda ini diharapkan tidak hanya berdampak pada penurunan emisi, tetapi juga pada terwujudnya kota-kota yang lebih layak huni, sehat, dan berkeadilan. Transportasi rendah emisi dinilai mampu meningkatkan kualitas udara, mengurangi kemacetan, serta menciptakan ruang publik yang lebih ramah bagi semua lapisan masyarakat.

Melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, akademisi, dan generasi muda, KLH optimistis transformasi transportasi berkelanjutan dapat berjalan lebih cepat dan efektif demi masa depan lingkungan yang lebih baik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index