JAKARTA - Fenomena langit selalu memiliki daya tarik tersendiri, terutama ketika melibatkan peristiwa langka yang hanya terjadi dalam rentang waktu sangat panjang.
Salah satu yang paling dinantikan oleh para pencinta astronomi adalah gerhana matahari total. Berdasarkan catatan dan perhitungan ilmiah, dunia akan kembali menyaksikan gerhana matahari total terpanjang dalam 100 tahun terakhir, sebuah momen kosmik yang tak mudah terulang dan patut dipersiapkan sejak dini.
Menurut kalender gerhana matahari milik NASA, peristiwa luar biasa ini diprediksi terjadi pada 2 Agustus 2027. Meski waktunya masih cukup lama, informasi ini menjadi penting karena tidak semua wilayah Bumi dapat menyaksikannya secara langsung. Indonesia, sayangnya, tidak termasuk dalam jalur lintasan gerhana matahari total tersebut.
Gerhana terpanjang abad ini jadi perhatian dunia
Mengutip laman Martha Stewart, Senin, NASA menjelaskan bahwa gerhana matahari total 2 Agustus 2027 akan dimulai dari wilayah Maroko dan Spanyol bagian selatan. Selanjutnya, lintasan gerhana akan bergerak melewati Aljazair, Tunisia, Libya, dan Mesir sebelum melintasi Arab Saudi, Yaman, hingga berakhir di pantai Somalia.
Puncak gerhana akan terjadi di dekat Luxor, Mesir. Pada titik ini, fase totalitas berlangsung selama enam menit dan 23 detik. Durasi tersebut menjadikannya gerhana matahari total terpanjang hingga tahun 2132, sebuah rekor yang membuat peristiwa ini begitu istimewa bagi dunia sains dan pengamat langit.
Fenomena langit saat matahari tertutup sempurna
Gerhana matahari total terjadi ketika bulan sepenuhnya menutupi matahari, membuat siang hari berubah menjadi gelap sementara. Dalam beberapa menit yang singkat itu, bintang dan planet dapat terlihat jelas di langit, sebuah pemandangan yang jarang bisa disaksikan dalam kondisi normal.
Selain itu, atmosfer luar matahari yang dikenal sebagai korona akan tampak mengelilingi tepi bulan. Korona ini berwarna putih keperakan dan hanya bisa diamati saat gerhana matahari total terjadi. Keindahan visual inilah yang membuat banyak orang rela melakukan perjalanan jauh demi menyaksikan langsung fenomena tersebut.
Peringatan penting soal keselamatan mata
Meski terlihat menakjubkan, gerhana matahari tidak boleh disaksikan secara sembarangan. NASA mengingatkan bahwa melihat matahari secara langsung tanpa perlindungan dapat menyebabkan cedera mata serius dan permanen. Kerusakan retina bisa terjadi dalam waktu singkat akibat paparan cahaya matahari yang sangat terang.
Pengamatan gerhana sebaiknya dilakukan secara tidak langsung atau menggunakan kacamata pelindung khusus. Metode seperti kamera lubang jarum juga dianjurkan sebagai alternatif aman. Mengabaikan prosedur keselamatan dapat berdampak fatal bagi kesehatan mata, sehingga kewaspadaan menjadi hal mutlak.
Gerhana matahari cincin terdekat pada 2026
Selain gerhana matahari total 2027, fenomena gerhana matahari cincin juga akan terjadi lebih dekat, yakni pada 17 Februari 2026. Pada pukul 04.56 pagi EST atau sekitar 04.56 WIB, bulan akan mulai membentuk tampilan “cincin api” saat menutupi sebagian besar matahari.
Gerhana maksimum diperkirakan terjadi pada pukul 07.12 pagi EST atau 12.12 GMT. Dalam peristiwa ini, bulan akan menutupi sekitar 96 persen cakram matahari. Fenomena ini hanya bisa disaksikan secara sempurna oleh pengamat yang berada di jalur cincin.
Wilayah terbatas yang dapat menyaksikan cincin api
Melansir space.com, jalur cincin gerhana matahari cincin 2026 memiliki panjang sekitar 2.661 mil dan lebar 383 mil. Jalur ini tergolong sangat terbatas dan hanya melintasi wilayah terpencil di Antartika. Karena itu, hanya sedikit orang yang benar-benar dapat menyaksikan fase cincin secara langsung.
Penduduk di seluruh Antartika, sebagian Afrika bagian selatan, serta wilayah paling selatan Amerika Selatan diperkirakan hanya akan melihat gerhana matahari parsial. Meski tidak sempurna, fenomena ini tetap menarik perhatian karena jarang terjadi dan memiliki nilai ilmiah tinggi.
Perbedaan gerhana total dan gerhana cincin
Gerhana matahari terjadi saat bulan baru berada tepat di antara Bumi dan matahari, sehingga bayangan bulan jatuh ke permukaan Bumi. Pada gerhana matahari total, posisi bulan cukup dekat sehingga tampak seukuran atau sedikit lebih besar dari matahari, memungkinkan penutupan penuh.
Sebaliknya, gerhana matahari cincin terjadi ketika bulan berada lebih jauh dari Bumi dalam orbit elipsnya. Ukuran bulan tampak lebih kecil dibandingkan matahari, sehingga tidak menutup seluruh cakram matahari dan menyisakan cincin cahaya terang di sekeliling bulan, yang dikenal sebagai efek cincin api.
Cara aman mengamati gerhana matahari
Mengutip kanal Health Liputan6.com yang bersumber dari NASA, cara aman mengamati gerhana matahari cincin dan sebagian berbeda dengan gerhana total. Karena cahaya matahari tidak sepenuhnya tertutup, risiko kerusakan mata tetap sangat tinggi.
Kacamata hitam biasa tidak cukup melindungi mata. Pengamat harus menggunakan kacamata khusus gerhana yang memenuhi standar internasional ISO 12312-2. Selain itu, mengamati gerhana melalui kamera, teleskop, atau teropong tetap berbahaya meskipun memakai kacamata gerhana, karena alat tersebut dapat memfokuskan cahaya dan menembus filter.
Jika tidak memiliki kacamata khusus, metode proyeksi lubang jarum bisa menjadi solusi aman. Dengan alat sederhana dari karton dan aluminium foil, bayangan matahari dapat dipantulkan ke kertas putih sehingga fenomena gerhana tetap bisa dinikmati tanpa risiko bagi mata.