JAKARTA - Pergantian pelatih Timnas Indonesia kembali memunculkan ekspektasi besar dari publik sepak bola nasional.
Kehadiran John Herdman sebagai nahkoda baru Skuad Garuda disambut dengan harapan tinggi, seolah perubahan instan bisa segera terjadi. Namun, pengamat sepak bola nasional Mohamad Kusnaeni mengingatkan bahwa proses membangun tim nasional tidak bisa dilakukan secara cepat dan ajaib.
Menurut Mohamad Kusnaeni, publik perlu memahami bahwa sepak bola modern menuntut perencanaan jangka menengah hingga panjang. John Herdman bukan pesulap yang mampu mengubah wajah Timnas Indonesia hanya dengan satu atau dua laga. Diperlukan waktu, konsistensi, dan dukungan agar filosofi permainan yang dibangun bisa benar-benar berjalan.
Ia menegaskan bahwa kesabaran menjadi kunci utama bagi semua pihak, terutama suporter. Tekanan berlebihan justru berpotensi menghambat proses yang sedang dirancang. Dengan latar belakang Herdman yang kuat sebagai pelatih, publik diminta memberi ruang agar perubahan bisa terlihat secara bertahap dan terukur.
Arah baru kebijakan PSSI dalam memilih pelatih
Mohamad Kusnaeni menilai pemilihan John Herdman mencerminkan perubahan signifikan dalam arah kebijakan PSSI. Jika sebelumnya federasi cenderung memilih pelatih dengan nama besar dan popularitas tinggi, kali ini pendekatan tersebut mulai ditinggalkan. Fokus kini lebih diarahkan pada kinerja dan rekam jejak kepelatihan.
Ia membandingkan situasi ini dengan pemilihan dua pelatih sebelumnya, Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert. Pada masa lalu, PSSI dianggap lebih mempertimbangkan faktor nama besar, kultur, dan figur yang dianggap bisa langsung memberi pengaruh instan kepada pemain. Pendekatan tersebut ternyata belum menghasilkan capaian sesuai harapan.
“Kali ini, arahnya berbeda, lebih berpatokan pada kinerja,” kata Mohamad Kusnaeni melalui kanal YouTube Nusantara TV. Menurutnya, John Herdman memang tidak memiliki popularitas sebesar Patrick Kluivert atau Shin Tae-yong, tetapi memiliki fondasi kepelatihan yang lebih terukur dan relevan dengan kebutuhan tim nasional saat ini.
Pelatih berbasis kinerja bukan popularitas
Dalam pandangan Mohamad Kusnaeni, John Herdman adalah contoh pelatih yang dipilih murni berdasarkan prestasi dan kapasitas kerja. Ia menyebut Herdman sebagai “benar-benar pelatih” yang telah membuktikan kemampuannya melalui proses panjang, bukan sekadar reputasi sebagai mantan pemain atau figur terkenal.
“Maksudnya, ini benar-benar pelatih. Jadi, kita betul-betul memilih seseorang pelatih yang proven track record-nya,” ujarnya. Salah satu bukti nyata adalah keberhasilan Herdman membawa Timnas Kanada lolos ke Piala Dunia 2022 setelah penantian panjang selama 36 tahun.
Capaian tersebut dianggap sebagai prestasi besar yang tidak datang secara instan. Herdman membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun fondasi, menanamkan filosofi, serta membentuk mental dan karakter tim. Hal inilah yang menurut Kusnaeni relevan untuk diterapkan di Timnas Indonesia.
Proses panjang yang perlu diapresiasi
Keberhasilan Herdman di Kanada juga menjadi alasan mengapa publik Indonesia diminta untuk bersabar. Mohamad Kusnaeni menekankan bahwa pencapaian besar di level internasional hampir selalu lahir dari proses yang panjang dan konsisten. Tidak ada tim yang tiba-tiba kuat tanpa perencanaan matang.
Ia menilai perubahan arah kebijakan PSSI patut diapresiasi karena kini federasi berani keluar dari pola lama. Pemilihan pelatih tidak lagi semata-mata didasarkan pada nama besar atau latar belakang tertentu, melainkan pada kemampuan membangun tim secara sistematis.
“Ini saya pikir perubahan arah kebijakan yang harus kita apresiasi. Menurut saya positif,” tambahnya. Dengan pendekatan baru ini, diharapkan Timnas Indonesia bisa berkembang secara berkelanjutan, bukan hanya mengejar hasil jangka pendek.
Kontrak panjang sinyal kepercayaan federasi
Satu hal penting yang juga disoroti Mohamad Kusnaeni adalah durasi kontrak John Herdman yang terbilang panjang. Hal ini menunjukkan bahwa PSSI tidak menargetkan hasil instan, melainkan membangun program jangka menengah hingga panjang, termasuk target besar menuju Piala Dunia 2030.
Menurutnya, Herdman bukan dipilih untuk bekerja satu atau dua tahun. Ia dipercaya memimpin proyek besar yang membutuhkan kesinambungan. Kontrak panjang tersebut menjadi sinyal bahwa federasi siap memberi waktu dan ruang bagi pelatih untuk bekerja sesuai rencana.
“Kalau kita bicara Piala Dunia, minimal kita terus bicara empat tahun,” ujar Kusnaeni. Ia mengingatkan bahwa di Kanada, Herdman bahkan diberi waktu hingga delapan tahun, meski hasil signifikan mulai terlihat setelah empat tahun kerja.
Kesabaran publik jadi faktor penentu keberhasilan
Di akhir pandangannya, Mohamad Kusnaeni kembali menekankan peran penting publik dan suporter. Ia menilai dukungan yang rasional dan sabar akan sangat membantu proses pembangunan tim nasional. Sebaliknya, tuntutan instan dan kritik berlebihan bisa menjadi bumerang.
Ia mengingatkan bahwa jika publik menerima John Herdman sebagai bagian dari proyek besar menuju Piala Dunia 2030, maka konsekuensinya adalah kesiapan untuk menunggu progres secara bertahap. Tidak semua perubahan akan langsung terlihat dalam waktu singkat.
“Kalau kita memilih John Herdman sekarang, kita harus siap melihat prosesnya itu mungkin tidak sim salabim,” tegasnya. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kesuksesan Timnas Indonesia ke depan sangat bergantung pada kesabaran, konsistensi, dan kepercayaan terhadap proses yang sedang dibangun.