JAKARTA - Bawang putih sering dianggap sebagai bumbu dapur biasa, padahal perannya dalam masakan sangat menentukan karakter akhir sebuah hidangan.
Dari aroma lembut hingga rasa pedas yang menyengat, semua itu tidak hanya bergantung pada jumlah bawang putih yang digunakan, tetapi juga pada cara mengolahnya sejak awal.
Pendekatan ini kerap luput dari perhatian banyak orang. Padahal, teknik mengiris, mencincang, atau menumbuk bawang putih mampu mengubah rasa masakan secara signifikan. Dengan sudut pandang ini, memahami cara memotong bawang putih bukan lagi soal teknis dapur semata, melainkan bagian dari seni memasak.
Peran senyawa allicin dalam bawang putih
Perbedaan rasa dan aroma bawang putih berakar pada satu senyawa penting bernama allicin. Senyawa inilah yang memberikan karakter pedas, tajam, sekaligus aroma khas pada bawang putih. Sumber Times of India pada Jumat, 9 Januari 2026, menyebutkan bahwa allicin juga berkaitan erat dengan berbagai manfaat kesehatan.
Allicin tidak muncul begitu saja dalam bawang putih utuh. Senyawa ini terbentuk ketika sel-sel bawang putih rusak akibat proses pemotongan, penekanan, atau penghalusan. Semakin banyak sel yang pecah, semakin besar pula jumlah allicin yang dilepaskan.
Oleh karena itu, teknik mengiris bawang putih secara langsung memengaruhi seberapa kuat rasa dan aromanya. Dari sinilah muncul perbedaan sensasi antara bawang putih yang hanya diiris tipis dan yang ditumbuk hingga halus.
Siung utuh hingga irisan sederhana
Menggunakan bawang putih dalam kondisi siung utuh menghasilkan rasa yang paling lembut. Aroma bawang putih akan keluar perlahan selama proses memasak, tanpa memberikan sensasi pedas yang kuat. Teknik ini sangat cocok untuk sup atau masakan berkuah yang dimasak lama.
Sementara itu, bawang putih yang diiris tipis mulai melepaskan rasa yang lebih terasa, namun masih tergolong ringan. Irisan ini memberikan kehangatan pada masakan tanpa mendominasi rasa utama. Karena itu, teknik ini sering digunakan dalam pasta atau tumisan cepat.
Pada tahap ini, kerusakan sel masih terbatas. Allicin yang dilepaskan belum terlalu banyak, sehingga rasa bawang putih tetap bersahabat dan mudah dipadukan dengan bahan lain.
Cincang kasar dan cincang halus
Mencincang bawang putih membuat lebih banyak sel yang pecah. Dampaknya, rasa bawang putih menjadi lebih kuat dan aromanya lebih tajam. Teknik ini umum dipakai untuk tumisan dan saus karena mampu memberikan identitas rasa yang jelas.
Jika bawang putih dicincang lebih halus, penyebaran rasanya menjadi lebih merata di seluruh masakan. Rasa yang dihasilkan tetap kuat, tetapi tidak terkonsentrasi di satu titik. Inilah alasan bawang putih cincang halus menjadi pilihan utama dalam banyak masakan rumahan.
Pada tahap ini, jumlah allicin yang terbentuk semakin tinggi. Sensasi pedas dan aroma tajam mulai terasa lebih dominan, terutama jika bawang putih tidak dimasak terlalu lama.
Teknik tumbuk, parut, dan pasta
Menumbuk bawang putih menyebabkan kerusakan sel dalam jumlah besar sekaligus. Allicin dilepaskan secara maksimal, menghasilkan rasa yang intens dan sedikit pedas. Teknik ini ideal untuk bumbu perendam atau saus dengan karakter kuat.
Bawang putih parut memberikan efek yang hampir serupa. Rasanya langsung terasa begitu masuk ke dalam masakan. Karena itu, bawang putih parut sering digunakan pada saus salad atau hidangan mentah yang tidak melalui proses pemanasan lama.
Sementara itu, pasta bawang putih merupakan bentuk paling pekat. Menggunakan bawang putih mentah dalam jumlah banyak, rasanya sangat tajam dan kuat. Pasta ini sebaiknya digunakan secukupnya agar tidak menutupi rasa bahan lain.
Pengaruh pemanggangan dan penghalusan ringan
Berbeda dari teknik sebelumnya, memanggang bawang putih utuh justru mengubah karakternya secara drastis. Setelah dipanggang, bawang putih menjadi lembut, manis, dan hampir creamy. Rasa pedasnya hilang, digantikan sensasi gurih yang halus.
Ada pula teknik menghaluskan bawang putih secara ringan. Metode ini berada di tengah-tengah antara cincang dan tumbuk. Rasanya cukup terasa, namun tidak terlalu agresif, sehingga sangat fleksibel untuk berbagai jenis masakan.
Pilihan teknik ini memungkinkan juru masak menyesuaikan rasa bawang putih dengan kebutuhan hidangan, tanpa harus mengurangi atau menambah jumlahnya secara berlebihan.
Tips memasak bawang putih agar tidak pahit
Selain teknik potong, cara memasak bawang putih juga memegang peranan penting. Bawang putih sangat sensitif terhadap panas tinggi. Untuk tumisan aromatik, bawang putih sebaiknya dimasukkan ke dalam wajan bersama minyak sebelum api dinyalakan agar aromanya keluar perlahan.
Jika menggunakan minyak yang sudah panas, cukup tumis bawang putih selama 30 hingga 60 detik sampai harum. Setelah itu, segera masukkan bahan lain atau cairan untuk menghentikan proses pemasakan. Cara ini mencegah bawang putih menjadi gosong dan pahit.
Sebagai tambahan, jika menemukan tunas hijau di tengah siung bawang putih, sebaiknya dibuang sebelum dimasak. Bagian ini sering menjadi sumber rasa pahit yang tajam dan dapat mengganggu cita rasa masakan secara keseluruhan.