JAKARTA - Setiap datangnya bulan suci, umat Islam kembali diingatkan pada tujuan besar di balik ibadah yang dijalankan selama sebulan penuh.
Ramadan bukan sekadar tradisi tahunan atau kewajiban formal yang harus ditunaikan. Di dalamnya tersimpan misi spiritual yang mendalam untuk membentuk karakter dan meningkatkan kualitas keimanan. Melalui proses menahan diri, seorang Muslim diarahkan menuju derajat yang lebih tinggi di sisi Allah SWT.
Ibadah puasa Ramadan memiliki tujuan utama untuk membentuk manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT. Hal tersebut disampaikan Ustaz Deni Rusli dalam program Mutiara Ramadan bersama RRI Pro 1 Banten, Kamis, 5 Maret 2026.
Penjelasan ini menegaskan bahwa puasa memiliki orientasi akhir yang jelas dan terarah. Bukan sekadar ibadah fisik, melainkan jalan pembentukan spiritual yang berkelanjutan.
Ustaz Deni menjelaskan puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus sepanjang hari. Puasa merupakan sarana meningkatkan kualitas iman serta kedekatan spiritual kepada Allah. Proses ini menuntut kesadaran penuh agar setiap aktivitas selama Ramadan bernilai ibadah. Dengan demikian, puasa menjadi media pembinaan diri yang komprehensif.
Tujuan Akhir Puasa Adalah Taqwa
Ia menegaskan tujuan akhir ibadah puasa sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an adalah meraih derajat taqwa. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 yang mewajibkan puasa bagi orang beriman. “Tujuan akhir kita melaksanakan ibadah puasa adalah untuk meraih derajat taqwa di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” katanya. Pernyataan ini memperjelas arah spiritual yang hendak dicapai setiap Muslim.
Konsep taqwa bukan sekadar istilah teologis, melainkan kondisi batin yang tercermin dalam perilaku sehari-hari. Seseorang yang bertaqwa akan berhati-hati dalam ucapan dan tindakannya. Ia menjaga hubungan dengan Allah sekaligus dengan sesama manusia. Inilah makna mendalam dari perjalanan puasa selama Ramadan.
Puasa menjadi latihan intensif untuk mengendalikan diri dari hal-hal yang dilarang. Dengan menahan lapar, haus, dan hawa nafsu, seseorang belajar disiplin dan kesabaran. Latihan ini diharapkan membentuk karakter yang konsisten dalam ketaatan. Dari sinilah derajat taqwa perlahan diraih melalui proses yang sungguh-sungguh.
Kemuliaan Orang Yang Bertaqwa
Menurutnya, taqwa merupakan kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah. Orang yang bertaqwa akan menjadi manusia terbaik karena mampu menjaga ketaatan kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari. “Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa, itulah orang pilihan dari orang-orang pilihan,” ujarnya. Ungkapan ini menunjukkan tingginya posisi taqwa dalam ajaran Islam.
Kemuliaan tersebut tidak diukur dari kekayaan, jabatan, atau status sosial. Ukurannya adalah kualitas hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Ketika ketaatan menjadi prioritas, maka seluruh aspek kehidupan akan terarah pada kebaikan. Puasa menjadi salah satu sarana efektif untuk membangun kualitas itu.
Derajat taqwa juga mencerminkan konsistensi dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Seseorang yang bertaqwa tidak hanya taat saat Ramadan, tetapi juga setelahnya. Ia menjadikan nilai-nilai Ramadan sebagai pedoman hidup sepanjang waktu. Inilah gambaran pribadi yang diharapkan lahir dari ibadah puasa.
Keutamaan Yang Menyertai Ketaqwaan
Ia menambahkan orang yang bertaqwa akan memperoleh berbagai keutamaan dalam hidup. Keutamaan tersebut tidak hanya berupa rezeki materi, tetapi juga ketenangan hati dan kehidupan yang penuh kedamaian. Dimensi ini menunjukkan bahwa taqwa berdampak luas dalam kehidupan seseorang. Tidak terbatas pada aspek ibadah ritual semata.
“Rezeki itu bukan hanya uang atau harta, tetapi juga ketenangan hati, keluarga yang saleh, dan lingkungan yang baik,” ucapnya. Pernyataan tersebut memperluas pemahaman tentang makna rezeki dalam Islam. Ketenangan batin dan keharmonisan keluarga termasuk nikmat besar yang lahir dari ketaatan. Puasa menjadi salah satu jalan untuk meraih keberkahan tersebut.
Ketika seseorang memiliki hati yang tenang, ia lebih mampu menghadapi tantangan hidup. Ia tidak mudah gelisah atau putus asa karena merasa dekat dengan Allah. Kedamaian inilah yang menjadi salah satu buah dari ketaqwaan. Ramadan memberikan kesempatan luas untuk menanam benih ketenangan itu.
Ramadan Sebagai Momentum Peningkatan Ibadah
Ustaz Deni menilai Ramadan merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah. Bulan ini menghadirkan suasana yang mendukung lahirnya kebiasaan baik. Masjid lebih ramai, tilawah Al-Qur’an meningkat, dan sedekah semakin digalakkan. Lingkungan yang kondusif ini membantu memperkuat komitmen spiritual.
Dengan memperbanyak amal dan menjaga keikhlasan, umat Islam diharapkan mampu mencapai derajat taqwa. Keikhlasan menjadi kunci agar setiap ibadah diterima oleh Allah SWT. Tanpa keikhlasan, amal berisiko kehilangan nilainya di sisi-Nya. Karena itu, puasa bukan hanya tentang kuantitas, tetapi juga kualitas niat.
Pada akhirnya, Ramadan adalah perjalanan menuju kedewasaan spiritual. Melalui puasa, seorang Muslim ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, disiplin, dan taat.
Derajat taqwa bukanlah sesuatu yang instan, melainkan hasil dari proses pembinaan diri yang berkesinambungan. Jika momentum ini dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh, maka tujuan besar puasa sebagaimana ditegaskan Ustaz Deni Rusli akan benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata.