Mobilitas Masyarakat Indonesia Menurun Akibat Diskon Transportasi Berakhir Januari

Selasa, 03 Maret 2026 | 13:31:33 WIB
Mobilitas Masyarakat Indonesia Menurun Akibat Diskon Transportasi Berakhir Januari

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan mobilitas masyarakat pada Januari 2026. 

Hal ini dipengaruhi berakhirnya pemberian diskon transportasi sekaligus tingginya curah hujan di awal tahun. Data menunjukkan tren penurunan pada berbagai moda transportasi secara bulanan, meski secara tahunan beberapa moda tetap mencatatkan kenaikan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menuturkan bahwa penurunan terjadi setelah masa peak season liburan Nataru berakhir. Kondisi cuaca ekstrem juga berdampak pada moda transportasi tertentu, termasuk pelayaran laut dan ASDP (penyebrangan).

Fenomena ini menunjukkan sensitivitas mobilitas masyarakat terhadap insentif harga dan faktor lingkungan. Penurunan penumpang tidak hanya terlihat di angkutan udara, tapi juga pada kereta api, angkutan laut, dan layanan penyebrangan.

Penurunan Penumpang Angkutan Udara Domestik dan Internasional

Angkutan udara domestik mengalami penurunan paling tajam pada Januari 2026. Jumlah penumpang turun -9,94% month to month (MtM), dari 5,46 juta menjadi 4,92 juta orang. Penurunan ini menunjukkan bahwa masyarakat cenderung menyesuaikan perjalanan dengan biaya dan ketersediaan diskon.

Sementara itu, angkutan udara internasional hanya mengalami koreksi tipis -1,02% MtM, dari 1,79 juta menjadi 1,77 juta penumpang. Penurunan minimal ini mengindikasikan bahwa perjalanan internasional lebih dipengaruhi faktor kebutuhan atau jadwal kerja dibandingkan diskon sementara.

Secara tahunan, angkutan udara internasional mencatatkan kenaikan 2,04% YoY, menunjukkan bahwa minat bepergian ke luar negeri tetap stabil meski ada fluktuasi bulanan.

Kereta Api dan KRL Masih Menjadi Pilihan Populer

Kereta api domestik, termasuk KRL di Jabodetabek, juga mencatatkan penurunan penumpang sebesar -5,10% MtM. Jumlah pengguna turun dari 50,69 juta orang menjadi 48,10 juta orang. Hal ini sejalan dengan tren bulanan yang dipengaruhi akhir liburan dan faktor cuaca.

Meski demikian, secara tahunan jumlah penumpang kereta api naik signifikan, yakni 10,94% YoY dibanding Januari 2025. Data ini menunjukkan tren jangka panjang bahwa kereta tetap menjadi moda transportasi yang diminati masyarakat untuk perjalanan domestik.

KRL Jabodetabek tetap menjadi pilihan utama warga untuk perjalanan rutin, meski diskon transportasi telah berakhir. Hal ini menunjukkan kestabilan penggunaan moda rel dibandingkan moda lain yang lebih sensitif terhadap biaya.

Angkutan Laut dan Penyebrangan Terpengaruh Cuaca

Angkutan laut domestik hanya mengalami penurunan tipis -0,45% MtM, dari 2,62 juta menjadi 2,61 juta penumpang. Sementara itu, ASDP (penyebrangan) terdampak lebih signifikan dengan penurunan -8,72% MtM, dari 4,70 juta menjadi 4,29 juta penumpang.

Faktor cuaca menjadi penyebab utama penurunan ini. Curah hujan tinggi mengganggu operasional pelayaran, terutama di jalur yang rawan badai atau gelombang tinggi. Kondisi ini membuat masyarakat menunda atau mengubah rencana perjalanan mereka.

Secara tahunan, angkutan laut domestik dan ASDP tetap menunjukkan penurunan masing-masing -0,55% dan -3,67% YoY. Tren ini memperlihatkan bahwa moda laut lebih rentan terhadap faktor eksternal dibanding moda darat atau udara.

Dampak Berakhirnya Diskon Transportasi

Berakhirnya masa diskon transportasi menjadi faktor signifikan dalam penurunan mobilitas bulanan. Insentif harga mendorong masyarakat melakukan perjalanan lebih banyak selama periode promosi, sementara penghapusan diskon langsung memengaruhi keputusan bepergian.

Penurunan jumlah penumpang juga memengaruhi pendapatan operator transportasi dan perencanaan kapasitas moda. Data ini penting untuk evaluasi kebijakan subsidi transportasi, khususnya pada periode pasca-liburan dan cuaca ekstrem.

Selain faktor harga, masyarakat menyesuaikan mobilitasnya dengan kondisi kenyamanan dan keselamatan. Angkutan umum yang terdampak cuaca atau kemacetan menjadi pilihan kedua bagi sebagian warga.

Kecenderungan Perjalanan Domestik dan Internasional

Data BPS menunjukkan bahwa meski terjadi penurunan bulanan, perjalanan internasional cenderung lebih stabil. Hal ini mengindikasikan kebutuhan atau jadwal perjalanan global yang tidak terlalu dipengaruhi diskon.

Sementara perjalanan domestik, terutama angkutan udara dan penyebrangan, lebih sensitif terhadap insentif harga dan faktor cuaca. Oleh karena itu, perencanaan transportasi publik harus mempertimbangkan fluktuasi musiman dan kondisi eksternal.

Kesimpulannya, penurunan mobilitas masyarakat pada Januari 2026 mencerminkan pengaruh kombinasi faktor diskon transportasi, cuaca, dan akhir masa liburan Nataru. Tren tahunan tetap menunjukkan kenaikan pada moda tertentu, menandakan pola perjalanan masyarakat yang relatif stabil meski dipengaruhi faktor jangka pendek.

Dengan pemahaman ini, pemerintah dan operator transportasi dapat menyesuaikan strategi operasional, evaluasi subsidi, dan perencanaan kapasitas agar mobilitas masyarakat tetap lancar, aman, dan terjangkau sepanjang tahun.

Terkini