Harga Perak Naik 60 Persen Ancam Pengrajin Kotagede Gulung Tikar

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:23:18 WIB
Harga Perak Naik 60 Persen Ancam Pengrajin Kotagede Gulung Tikar

JAKARTA - Gejolak harga logam mulia kembali mengguncang sektor usaha kecil di daerah. 

Kali ini, sentra kerajinan perak Kotagede Yogyakarta menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga bahan baku. Dalam beberapa bulan terakhir, harga perak naik 60 persen dan memicu kekhawatiran luas di kalangan pengrajin.

Kenaikan ini disebut sebagai yang tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Dampaknya tidak hanya terasa pada biaya produksi, tetapi juga menghantam omzet penjualan. Banyak pelaku usaha mulai merasakan penurunan daya beli konsumen yang signifikan.

Lonjakan harga perak terjadi sejak Oktober 2025 dan memuncak pada Januari 2026. Fluktuasi harga yang tajam membuat pelaku usaha kesulitan mengatur produksi. Ketidakpastian pasar memaksa mereka berpikir ulang dalam menentukan jumlah barang yang akan dibuat.

Jika sebelumnya harga perak mentah berada di kisaran Rp30.000 per gram, kini sudah menyentuh sekitar Rp60.000 per gram. Kenaikan drastis ini menjadi beban besar bagi industri kerajinan. Sentra kerajinan perak terbesar di Kotagede mulai merasakan tekanan berat.

Kenaikan Tertinggi dalam Dua Dekade

Para pengrajin menyebut kenaikan harga perak kali ini sebagai yang paling tinggi dalam dua dekade terakhir. Gejolak harga mulai terasa sejak akhir 2024, namun lonjakan paling signifikan terjadi pada awal 2026. Dalam waktu singkat, harga perak bahkan disebut hampir melonjak dua setengah kali lipat.

Kondisi tersebut memaksa produsen untuk mengoreksi harga jual produk jadi. Mulai dari cincin, anting, gelang hingga berbagai kerajinan khas Kotagede mengalami penyesuaian harga. Namun di sisi lain, kenaikan harga jual justru berimbas pada turunnya daya beli konsumen.

Perubahan tren ini menunjukkan pergeseran fungsi perak. Dari yang semula dominan sebagai bahan perhiasan dan kerajinan, kini juga dilirik sebagai aset lindung nilai. Situasi ini menciptakan ironi bagi pengrajin yang menggantungkan hidup pada sektor produksi kerajinan.

Meski aktivitas produksi masih berjalan seperti biasa, para pengrajin mengaku waswas menghadapi situasi yang tidak menentu. Mereka khawatir lonjakan harga yang terus berlanjut akan semakin menekan usaha kecil. Ketidakstabilan ini membuat perencanaan usaha menjadi semakin sulit.

Omzet Anjlok dan Daya Beli Melemah

Dampak paling nyata dari kenaikan harga perak adalah penurunan omzet. Banyak pelanggan yang sebelumnya rutin membeli perhiasan perak kini memilih menunda pembelian. Harga yang melonjak dianggap terlalu tinggi bagi sebagian konsumen.

“Setelah ada kenaikan perak, jelas penjualan kami turun. Harganya terlalu tinggi sehingga daya beli customer juga turun,” ujar salah satu pengrajin di Kotagede. Pernyataan ini menggambarkan situasi riil yang dihadapi pelaku usaha.

Kenaikan harga perak naik 60 persen menjadi tantangan serius bagi sentra kerajinan Kotagede. Di satu sisi, perak makin diminati sebagai instrumen investasi. Namun di sisi lain, para pengrajin justru terhimpit oleh tingginya biaya produksi dan melemahnya daya beli.

Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi, para pelaku usaha khawatir banyak pengrajin yang terpaksa gulung tikar. Industri yang telah bertahan puluhan tahun itu kini menghadapi ancaman nyata. Ikon kerajinan perak Yogyakarta terancam kehilangan pamornya.

Bahan Baku Kian Sulit Dijangkau

Tak hanya penjualan yang menurun, kemampuan pengrajin untuk membeli bahan baku juga ikut tergerus. Modal usaha yang sebelumnya cukup untuk membeli stok perak kini terasa berat karena harga sudah berlipat. Kenaikan ini memengaruhi perputaran kas usaha kecil.

Pengrajin mengaku berada dalam posisi dilema. Jika tetap memproduksi dalam jumlah besar, mereka khawatir barang tidak laku di pasaran. Namun jika produksi dikurangi, perputaran usaha bisa tersendat dan berdampak pada tenaga kerja.

“Kita mau bikin barang takut siapa yang beli karena kenaikannya sangat drastis,” ungkap pengrajin lainnya. Kekhawatiran tersebut mencerminkan ketidakpastian yang membayangi sentra industri ini. Risiko kerugian menjadi semakin besar.

Sentra kerajinan perak Kotagede selama ini dikenal sebagai salah satu pusat kerajinan terbesar di Indonesia. Industri ini menjadi sumber mata pencaharian warga sekaligus bagian dari kearifan lokal Yogyakarta. Karena itu, tekanan harga perak membawa dampak sosial yang luas.

Perak Jadi Instrumen Investasi

Menariknya, di tengah lesunya pasar perhiasan, tren pembelian perak murni sebagai instrumen investasi justru meningkat. Lonjakan harga emas yang terus meroket membuat sebagian masyarakat beralih ke perak. Harga emas yang sudah menembus angka jutaan rupiah per gram membuat perak dianggap lebih terjangkau.

Sebagian pembeli mengaku memilih perak karena selisih harga yang jauh dibanding emas. “Dari sisi harga jelas lebih murah perak dibanding emas. Emas sekarang sudah sangat tinggi. Kalau perak masih lebih terjangkau,” ujar seorang pembeli.

Namun, kenaikan harga perak hingga dua kali lipat dalam waktu singkat juga mengejutkan para kolektor. Mereka yang sebelumnya membeli perak di kisaran Rp30 ribuan per gram kini harus membayar hampir Rp60 ribu per gram. Perubahan cepat ini menciptakan dinamika baru di pasar.

Kenaikan harga perak 60 persen ini memperlihatkan dua sisi berbeda. Bagi investor, perak menjadi alternatif menarik di tengah mahalnya emas. Namun bagi pengrajin Kotagede, lonjakan tersebut justru menjadi ancaman serius terhadap kelangsungan usaha mereka.

Harapan Pada Pemerintah

Di tengah tekanan tersebut, para pengrajin berharap ada intervensi atau kebijakan dari pemerintah. Mereka menginginkan langkah konkret untuk menstabilkan harga atau membantu pelaku UMKM bertahan. Tanpa dukungan, situasi dinilai semakin sulit.

“Kami berharap ada tindakan dari instansi pemerintah untuk menolong pengrajin. Kalau dibiarkan begini, pengrajin bisa bubar,” kata salah satu pelaku usaha. Pernyataan ini menjadi cerminan kegelisahan yang dirasakan banyak pihak.

Tanpa solusi yang jelas, bukan tidak mungkin industri kerajinan perak Kotagede akan semakin terpuruk. Kenaikan harga bahan baku yang tajam dan melemahnya daya beli menjadi kombinasi yang berat. Nasib sentra kerajinan legendaris ini kini berada di persimpangan.

Terkini