Manajemen Baru Bank Sumut Bidik Aset Rp100 Triliun Tahun 2030

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:23:17 WIB
Manajemen Baru Bank Sumut Bidik Aset Rp100 Triliun Tahun 2030

JAKARTA - Ambisi besar mulai dipancang manajemen baru PT Bank Sumut untuk lima tahun ke depan. 

Di tengah tantangan ekonomi global yang dinamis, bank pembangunan daerah ini menargetkan lompatan signifikan pada kinerja keuangan. Fokus utama diarahkan pada pertumbuhan aset yang lebih agresif namun tetap terukur.

Hingga Desember 2025, posisi aset Bank Sumut tercatat sebesar Rp48,6 triliun secara unaudited. Angka tersebut menjadi pijakan awal untuk mencapai target dua kali lipat dalam beberapa tahun mendatang. Manajemen optimistis akselerasi bisa dicapai melalui strategi transformasi menyeluruh.

Komitmen itu ditegaskan dalam agenda pertemuan pertama antara media dengan Dewan Komisaris dan jajaran Direksi terbaru Bank Sumut, Rabu. Pertemuan ini menjadi momen pengenalan arah kebijakan baru perusahaan. Sekaligus penegasan target jangka menengah hingga 2030.

Komisaris Utama Bank Sumut Firsal Ferial Mutyara menyampaikan proyeksi ambisius tersebut secara terbuka. Target yang dicanangkan bukan sekadar pertumbuhan biasa, melainkan lompatan kinerja yang terukur. Seluruh jajaran diminta fokus menjalankan mandat pemegang saham.

Target Aset dan Rasio Keuangan

PT Bank Sumut menargetkan pertumbuhan aset perbankan dapat tembus Rp100 triliun di tahun 2030. Angka ini meningkat signifikan dari posisi hingga Desember 2025 sebesar Rp48,6 triliun (unaudited). Target tersebut disampaikan langsung dalam forum resmi manajemen.

"Sesuai arahan Gubernur agar Bank Sumut lebih fokus dan meningkatkan kinerja, kami di Dewan Komisaris dan jajaran Direksi telah menyepakati sejumlah target yang hendak dicapai di tahun 2030, yakni pertumbuhan aset hingga Rp100 triliun," ujar Firsal, Rabu.

Selain pertumbuhan aset, manajemen juga membidik peningkatan rasio profitabilitas. Return of equity ditargetkan naik menjadi 20 persen dan return on assets menjadi 5 persen. Sementara itu, BOPO diharapkan berada di bawah 70 persen dalam empat tahun ke depan.

Dikatakan Firsal, Gubernur Sumatra Utara Bobby Nasution meminta Bank Sumut tumbuh lebih progresif di bawah komando Direktur Utama yang baru. Arahan tersebut menjadi landasan bagi manajemen untuk menyusun strategi. Dinamika global dinilai menuntut respons yang cepat dan adaptif.

Peran Pemegang Saham dan Pengawasan

Menurut Firsal, arahan dan masukan dari para pemegang saham perlu mendapat perhatian serius. Direksi dan manajemen diminta mampu menerjemahkan mandat tersebut dalam langkah konkret. Koordinasi yang solid menjadi kunci pencapaian target.

"Ini menjadi target kita bersama, sehingga perlu mencari solusi dan strategi yang akan digunakan. Ini yang diamanahkan kepada kami selaku Dewan Komisaris sebagai perpanjangan tangan pemegang saham agar bisa mengeksekusi arahan tersebut bersama-sama direksi," jelas Firsal.

Peran Dewan Komisaris ditegaskan sebagai pengawas sekaligus pengawal arah kebijakan. Mereka bertanggung jawab memastikan setiap strategi berjalan sesuai prinsip tata kelola yang baik. Sinergi antara komisaris dan direksi diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan.

Manajemen menyadari sektor keuangan menjadi salah satu sektor utama yang terdampak dinamika global. Karena itu, langkah transformasi harus dijalankan secara hati-hati. Pertumbuhan tetap diupayakan tanpa mengabaikan manajemen risiko.

Agenda Transformasi Menyeluruh

Direktur Utama terbaru Bank Sumut Heru Mardiansyah menegaskan bahwa transformasi perusahaan sedang berjalan. Langkah ini menjadi respons strategis menghadapi tantangan ekonomi global dan persaingan bisnis. Tujuannya menciptakan pertumbuhan yang berkualitas.

Transformasi mencakup penyesuaian struktur organisasi agar lebih adaptif. Selain itu, penguatan manajemen sumber daya manusia menjadi pondasi utama keberlanjutan perusahaan. Perubahan internal ini diyakini akan meningkatkan daya saing.

Heru juga menekankan pentingnya transformasi digital untuk mendukung ekspansi bisnis. Inovasi teknologi dinilai mampu memperluas jangkauan layanan dan meningkatkan efisiensi operasional. Digitalisasi menjadi bagian integral dari strategi jangka panjang.

“Transformasi adalah keharusan. Kami harus berani berubah agar organisasi lebih lincah, mampu bertumbuh secara sehat, dan pada akhirnya berprestasi secara berkelanjutan di tengah persaingan yang semakin ketat tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian yang menjadi fondasi utama industri perbankan,” ujar Heru.

Fokus Pembiayaan Sektor Produktif

Lebih jauh, Bank Sumut mengarahkan transformasi untuk memperkuat peran sebagai motor penggerak perekonomian daerah. Posisi bank pembangunan daerah dinilai strategis dalam mendukung sektor riil. Kontribusi terhadap ekonomi lokal menjadi prioritas.

Heru menyebut Bank Sumut berkomitmen meningkatkan dukungan pembiayaan pada sektor produktif. Fokus diarahkan pada UMKM, dunia usaha, serta program pembangunan yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi. Pendekatan ini diharapkan memberi efek berganda.

"Bank Sumut nanti tentunya akan berperan sebagai katalis pertumbuhan dan pembangunan berkelanjutan. Setiap pembiayaan yang disalurkan kepada sektor produktif, yang selama ini lebih banyak ke konsumtif akan kami geser atau kami tambah porsinya di sektor produktif," kata Heru.

Strategi tersebut menunjukkan pergeseran orientasi pembiayaan. Jika sebelumnya dominan ke konsumtif, kini porsi sektor produktif akan diperbesar. Langkah ini diyakini mampu memperkuat fundamental ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kualitas aset bank.

Dengan target aset Rp100 triliun pada 2030, Bank Sumut memasuki babak baru. Manajemen baru membawa visi pertumbuhan progresif yang tetap berpijak pada prinsip kehati-hatian. Lima tahun ke depan akan menjadi periode krusial pembuktian strategi transformasi tersebut.

Terkini