JAKARTA - Pembukaan perdagangan saham awal pekan ini diwarnai dinamika yang cukup tajam.
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG langsung menunjukkan pergerakan tidak stabil sejak bel pembukaan Senin, 9 Februari 2026. Situasi ini terjadi ketika mayoritas bursa saham Asia bergerak menguat, namun tekanan justru datang dari sebagian besar sektor di dalam negeri yang dibuka melemah.
Berdasarkan data RTI, IHSG memulai perdagangan dengan kenaikan 34,76 poin ke level 7.970,02. Meski sempat dibuka di zona hijau, tekanan jual langsung terasa di banyak saham unggulan. Indeks LQ45 tercatat turun 0,89 persen ke posisi 808, menandakan tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar masih cukup dominan.
Pergerakan IHSG di Awal Sesi Perdagangan
Pada fase awal perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang yang cukup lebar. Indeks sempat mencetak level tertinggi di 7.983,61 sebelum kemudian tertekan ke level terendah 7.863. Kondisi ini mencerminkan tarik-menarik antara aksi beli dan jual yang berlangsung cepat sejak pagi hari.
Tekanan terlihat dari jumlah saham yang melemah lebih dominan. Sebanyak 388 saham tercatat berada di zona merah dan membebani pergerakan IHSG. Di sisi lain, hanya 197 saham yang menguat, sementara 136 saham tercatat stagnan tanpa perubahan harga.
Aktivitas transaksi pasar juga menunjukkan geliat moderat. Total frekuensi perdagangan mencapai 399.323 kali dengan volume transaksi sekitar 7,9 miliar saham. Nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp 3,2 triliun. Sementara itu, nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran 16.861.
Tekanan Sektor Saham Masih Mendominasi
Mayoritas sektor saham mencatatkan pelemahan pada awal sesi perdagangan. Sektor keuangan menjadi penekan terbesar dengan koreksi mencapai 1,615 persen. Pelemahan ini turut memengaruhi pergerakan indeks secara keseluruhan, mengingat sektor keuangan memiliki bobot besar di IHSG.
Selain sektor keuangan, sektor infrastruktur juga tergelincir 1,39 persen. Sektor energi terkoreksi 0,30 persen, disusul sektor industri yang melemah 0,19 persen. Sektor consumer nonsiklikal juga tidak luput dari tekanan dengan penurunan 0,44 persen.
Tekanan berlanjut di sektor saham siklikal yang turun 1 persen, sektor properti yang terperosok 0,60 persen, sektor teknologi yang terkoreksi 0,56 persen, serta sektor transportasi yang melemah 0,48 persen. Di tengah dominasi pelemahan tersebut, sektor basic justru mampu menguat 1,22 persen, sementara sektor kesehatan bergerak fluktuatif.
Sorotan Saham yang Bergerak Aktif
Di tengah kondisi pasar yang bergejolak, sejumlah saham justru mencatatkan pergerakan positif. Saham BRMS tercatat naik 1,59 persen ke posisi Rp 960 per saham. Saham ini dibuka menguat 25 poin ke level Rp 970 dan sempat menyentuh level tertinggi Rp 975, sebelum turun ke level terendah Rp 950.
Aktivitas perdagangan saham BRMS cukup ramai dengan total frekuensi 4.709 kali. Volume perdagangan mencapai 533.872 saham dan nilai transaksi tercatat sebesar Rp 51,5 miliar, mencerminkan minat pelaku pasar yang masih terjaga.
Saham ARCI juga mencatatkan penguatan signifikan. Harga saham ARCI naik 3,43 persen ke posisi Rp 1.660 per saham. Saham ini dibuka di level Rp 1.640 dan bergerak di rentang Rp 1.615 hingga Rp 1.665. Total frekuensi perdagangan mencapai 5.367 kali dengan nilai transaksi Rp 54,6 miliar.
Sementara itu, saham BUVA melonjak paling tajam dengan kenaikan 9,19 persen ke level Rp 1.010 per saham. Saham ini naik 45 poin dari penutupan sebelumnya dan diperdagangkan aktif dengan frekuensi 11.194 kali. Nilai transaksi saham BUVA tercatat sebesar Rp 96,5 miliar.
Berbeda arah, saham BRIS justru melemah 0,42 persen ke posisi Rp 2.370 per saham. Saham ini bergerak di kisaran Rp 2.330 hingga Rp 2.420 dengan nilai transaksi mencapai Rp 26,2 miliar.
Top Gainers dan Top Losers Hari Ini
Sejumlah saham mencatatkan lonjakan tajam dan masuk dalam daftar top gainers. Saham PURI memimpin penguatan dengan kenaikan 33,33 persen. Disusul saham ALKA yang naik 24,41 persen, saham APLI menguat 24,12 persen, saham IFSH naik 22,66 persen, serta saham LION yang menguat 19,01 persen.
Di sisi lain, tekanan jual juga cukup terasa pada sejumlah saham yang masuk daftar top losers. Saham SSTM merosot 14,87 persen, diikuti saham SOTS yang turun 14,81 persen. Saham REAL melemah 14,29 persen, saham FITT terkoreksi 13,61 persen, dan saham PIPA turun 12,98 persen.
Dari sisi nilai transaksi, saham BBCA menjadi yang paling aktif dengan nilai Rp 356,2 miliar. Saham BUMI mencatat nilai transaksi Rp 309,5 miliar, disusul saham BBRI Rp 309,8 miliar, saham BMRI Rp 229,7 miliar, dan saham ANTM Rp 197,6 miliar.
Sementara berdasarkan frekuensi perdagangan, saham BUMI tercatat paling sering diperdagangkan sebanyak 30.556 kali. Saham BBCA menyusul dengan 16.727 kali transaksi, diikuti saham LAJU 15.045 kali, saham BBRI 14.991 kali, serta saham BUVA 13.461 kali.
Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham Hari Ini
Meski IHSG bergerak fluktuatif, peluang penguatan terbatas masih terbuka pada perdagangan hari ini. BNI Sekuritas mencatat bahwa pada perdagangan Jumat, 6 Februari 2026, IHSG ditutup melemah 2,08 persen, namun terdapat aksi beli bersih oleh investor asing senilai Rp 775 miliar.
Saham-saham yang paling banyak dibeli investor asing antara lain BMRI, BUMI, TLKM, ANTM, dan ASII. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai IHSG masih berpotensi menguat secara terbatas. Namun, ia mengingatkan investor untuk tetap waspada selama IHSG belum mampu menembus level 8.050.
“IHSG berpotensi untuk menguat terbatas hari ini. Namun, hati-hati sepanjang IHSG belum break di atas 8.050, masih rentan koreksi lagi,” ujar Fanny dalam catatannya. Ia memproyeksikan level support IHSG berada di kisaran 7.780–7.850, sementara resistance berada di rentang 8.000–8.050.
Senada, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menuturkan bahwa IHSG dalam waktu dekat berupaya kembali naik ke atas level psikologis 8.000 dan menutup gap di 8.102 sebagai resistance pertama. Namun, risiko konsolidasi lanjutan tetap ada jika support 7.860 kembali jebol.
“Risiko konsolidasi lanjutan ke arah 7.710–7.480 jika level support 7.860 kembali runtuh,” kata Liza.
Berdasarkan analisis tersebut, rekomendasi saham pilihan hari ini meliputi PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), serta PT Samator Indo Gas Tbk (AGII).