Kulit Sensitif Sering Disalahartikan Akibat Skincare Dokter Ungkap Faktor Tersembunyi Lainnya

Senin, 02 Februari 2026 | 15:53:30 WIB
Kulit Sensitif Sering Disalahartikan Akibat Skincare Dokter Ungkap Faktor Tersembunyi Lainnya

JAKARTA - Keluhan kulit sensitif kini semakin banyak dialami masyarakat perkotaan, termasuk di Medan. 

Kondisi kulit yang mudah terasa perih, kemerahan, gatal, hingga panas sering kali langsung dikaitkan dengan ketidakcocokan produk skincare. Tak sedikit orang yang buru-buru mengganti produk tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi pada kulitnya.

Padahal, anggapan tersebut tidak selalu tepat. Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dari ERHA Central Medan, dr. Ariyati Yosi, MKed(KK), Sp.DVE, Subsp.DT, FINSDV, FAADV, menegaskan bahwa kulit sensitif memiliki penyebab yang jauh lebih kompleks. Faktor lingkungan, kebiasaan perawatan, hingga gaya hidup turut berperan dalam memicu kondisi ini.

Menurut Yosi, kulit sensitif umumnya muncul saat skin barrier melemah. Ketika lapisan pelindung kulit tidak berfungsi optimal, kulit menjadi lebih rentan terhadap iritasi. Sayangnya, banyak orang tidak menyadari kondisi ini dan justru memperparahnya dengan perawatan yang kurang tepat.

Lingkungan Dan Kebiasaan Sehari Hari Jadi Pemicu

Medan dikenal memiliki cuaca panas dan lembap hampir sepanjang tahun. Kondisi ini membuat kulit lebih mudah kehilangan kelembapan alami. Jika tidak diimbangi dengan perawatan yang tepat, kulit akan lebih rentan mengalami gangguan, termasuk sensitif dan iritasi.

Yosi menjelaskan bahwa paparan polusi, aktivitas padat di luar ruangan, serta kebiasaan menggunakan skincare berlapis tanpa pemahaman kondisi kulit turut memperburuk situasi. Banyak pasien datang dengan keluhan serupa setelah mencoba berbagai produk yang sedang tren, namun tidak sesuai dengan kebutuhan kulitnya.

“Di Medan, kombinasi cuaca dan kebiasaan perawatan sering jadi pemicu iritasi berulang. Banyak pasien datang setelah mencoba berbagai produk mengikuti tren, tapi tanpa tahu kondisi kulitnya sendiri,” ujar Yosi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kulit sensitif bukan sekadar persoalan produk, melainkan juga bagaimana kulit beradaptasi dengan lingkungan dan rutinitas harian.

Kesalahpahaman Tentang Rasa Perih Pada Kulit

Salah satu anggapan yang masih sering ditemui adalah rasa perih dianggap sebagai tanda skincare sedang bekerja. Banyak orang memilih bertahan meski kulit terasa tidak nyaman, dengan harapan hasil yang lebih cepat terlihat.

Yosi menegaskan bahwa persepsi tersebut keliru. “Perih itu tanda kulit sedang iritasi, bukan progres. Kalau dibiarkan, justru bisa memperparah kondisi kulit,” ujarnya. Rasa perih merupakan sinyal bahwa kulit mengalami stres dan membutuhkan penanganan, bukan tambahan produk aktif.

Jika kondisi ini terus diabaikan, iritasi dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Kulit menjadi semakin sensitif dan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.

Kulit Sensitif Tidak Selalu Bersifat Menetap

Kabar baiknya, kulit sensitif tidak selalu bersifat permanen. Dalam banyak kasus, kondisi ini hanya sementara dan dapat membaik jika skin barrier diperbaiki dengan cara yang tepat. Namun, masalah sering muncul ketika keluhan dianggap sepele dan dibiarkan berulang.

Yosi mengungkapkan bahwa tidak sedikit pasien datang ke klinik dalam kondisi yang sudah cukup berat. Padahal, jika ditangani sejak awal, risiko perburukan dapat diminimalkan. “Sering kali pasien datang sudah dalam kondisi berat karena iritasi dibiarkan berulang. Padahal, penanganan sejak awal bisa mencegah kondisi makin parah,” katanya.

Perawatan kulit seharusnya tidak hanya berfokus pada hasil instan, tetapi juga pada kesehatan kulit jangka panjang. Kulit yang sehat akan terlihat lebih bercahaya secara alami.

Langkah Awal Menenangkan Kulit Sensitif

Dalam menangani kulit sensitif, langkah pertama yang disarankan adalah menghentikan sementara penggunaan produk yang berpotensi memicu iritasi. Produk seperti retinol, exfoliant, atau skincare dengan kandungan pewangi kuat sebaiknya dihindari hingga kondisi kulit membaik.

Setelah itu, fokus perawatan diarahkan pada upaya menenangkan dan memperbaiki skin barrier. Yosi menekankan bahwa penanganan kulit sensitif harus dilakukan secara bertahap dan tidak terburu-buru. “Penanganan kulit sensitif itu bertahap. Yang penting aman, jelas, dan sesuai kebutuhan masing-masing orang,” tambahnya.

Rutinitas skincare juga sebaiknya disederhanakan. Penggunaan terlalu banyak produk justru dapat memperberat kerja kulit yang sedang bermasalah.

Pentingnya Perlindungan Dan Konsultasi Profesional

Penggunaan sunscreen yang lembut dan tidak mengiritasi menjadi langkah penting, terutama di daerah dengan paparan sinar matahari tinggi seperti Medan. Perlindungan dari sinar UV membantu mencegah iritasi tambahan dan menjaga kondisi kulit tetap stabil.

Jika keluhan tidak kunjung membaik meski sudah mengubah rutinitas perawatan, konsultasi dengan dokter kulit sangat dianjurkan. Kulit sensitif bisa menjadi tanda adanya kondisi lain seperti dermatitis, alergi, atau gangguan medis tertentu yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Dengan pendekatan yang tepat dan terukur, kulit sensitif bukanlah kondisi yang perlu ditakuti. Setiap orang memiliki karakteristik kulit yang berbeda, sehingga analisis menyeluruh sangat diperlukan. “Setiap kulit itu unik. Dengan analisis yang menyeluruh, kulit sensitif bisa kembali lebih tenang, sehat, dan terkontrol,” pungkas Yosi.

Terkini