Rupiah Menguat di Awal Pekan Seiring Dolar AS Melemah Tipis

Senin, 02 Februari 2026 | 13:25:24 WIB
Rupiah Menguat di Awal Pekan Seiring Dolar AS Melemah Tipis

JAKARTA - Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan pekan ini dengan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Senin. 

Rupiah dibuka di level Rp16.770/US$, terapresiasi 0,06% dibanding penutupan Jumat lalu di Rp16.780/US$.

Penguatan rupiah terjadi di tengah fluktuasi indeks dolar AS (DXY) yang berada di zona hijau, menguat 0,09% ke level 97,077 pada pukul 09.00 WIB. Pergerakan ini menunjukkan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, akibat penguatan dolar global.

Dinamika pasar global yang berubah cepat turut memengaruhi sentimen investor. Ketidakpastian arah kebijakan The Fed dan ekspektasi inflasi AS menjadi faktor utama pergerakan mata uang domestik.

Investor dalam negeri juga memperhatikan pergerakan dolar karena korelasi langsung terhadap aset berisiko seperti saham dan komoditas yang diperdagangkan secara global.

Sentimen Global Pengaruhi Pergerakan Rupiah

Kenaikan dolar AS dipengaruhi sentimen pasar terhadap kemungkinan arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed) di bawah kepemimpinan Kevin Warsh. Penunjukan Warsh oleh Presiden AS Donald Trump memicu aksi jual aset berisiko dan mendorong penguatan dolar karena investor memperkirakan potensi pengetatan neraca bank sentral.

Meskipun Warsh diperkirakan mendukung pemangkasan suku bunga, pasar menilai pengurangan likuiditas jangka panjang akan menopang dolar sebagai safe haven. Kondisi ini menahan laju penguatan rupiah meski ada tren awal apresiasi.

Selain itu, volatilitas pasar global membuat pelaku pasar berhati-hati. Pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tetap rentan terhadap sentimen eksternal.

Aksi investor global yang mengalihkan portofolio ke dolar dapat menekan mata uang domestik dalam jangka pendek.

Inflasi Januari dan Dampaknya Terhadap Rupiah

Dari sisi domestik, pelaku pasar menanti rilis inflasi Januari 2026 yang diperkirakan melandai. Konsensus dari 11 institusi memperkirakan inflasi bulanan berada di 0,06% (mtm), jauh lebih rendah dibanding Desember 2025 yang tercatat 0,64%.

Secara tahunan, inflasi diproyeksikan meningkat menjadi 3,74% (yoy) dari 2,92% pada Desember 2025. Kenaikan ini terutama dipengaruhi efek basis rendah terkait diskon tarif listrik, bukan lonjakan permintaan domestik.

Inflasi inti diperkirakan stabil di 2,4%, menjadi acuan bagi Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan suku bunga selanjutnya. Kondisi ini memberi sinyal stabilitas moneter yang mendukung penguatan rupiah.

Pergerakan rupiah pun diperkirakan akan terjaga jika inflasi domestik tetap berada dalam rentang target BI.

Neraca Dagang Desember Menjadi Faktor Penguat

Selain inflasi, pasar menunggu pengumuman neraca dagang Desember 2025. Surplus diproyeksikan mencapai US$5,05 miliar, meningkat dari surplus November 2025 sebesar US$2,66 miliar.

Jika terealisasi, surplus ini akan memperpanjang tren positif neraca dagang Indonesia menjadi 67 bulan berturut-turut. Kondisi ini menjadi indikasi ketahanan eksternal yang mendukung stabilitas rupiah.

Tren surplus yang konsisten dapat meredam tekanan dari penguatan dolar global dan volatilitas pasar internasional. Investor menilai faktor ini sebagai pijakan fundamental bagi mata uang domestik.

Selain itu, surplus perdagangan menunjukkan permintaan luar negeri tetap kuat terhadap produk Indonesia, yang berimbas positif pada neraca pembayaran.

Prospek Pergerakan Rupiah di Pekan Ini

Pergerakan rupiah ke depan akan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Penguatan dolar sebagai safe haven dapat menahan apresiasi rupiah, sementara data inflasi dan neraca dagang memberi pijakan bagi pasar untuk menilai fundamental ekonomi.

Investor diperkirakan akan menyesuaikan strategi trading sambil menunggu rilis data resmi inflasi dan perdagangan. Pergerakan intraday rupiah tetap fluktuatif dengan potensi koreksi akibat volatilitas global.

Pelaku pasar juga memperhatikan sentimen politik dan ekonomi di AS, khususnya terkait The Fed, karena akan memengaruhi aliran modal dan risiko mata uang.

Strategi Investor Mengantisipasi Volatilitas

Investor dan trader di pasar valas kemungkinan akan mengatur strategi jangka pendek sambil memonitor data domestik. Apresiasi rupiah tipis saat pembukaan memberi ruang bagi koreksi intraday, terutama jika indeks dolar kembali menguat.

Data inflasi dan neraca dagang menjadi acuan penting untuk ekspektasi arah kebijakan moneter Bank Indonesia. Strategi pengelolaan risiko perlu diperkuat dengan memantau sentimen global dan volatilitas pasar.

Dengan kombinasi faktor fundamental dan eksternal, pelaku pasar disarankan mengedepankan strategi diversifikasi dan kehati-hatian dalam memanfaatkan momentum pergerakan rupiah.

Terkini