Penumpang KA Gajayana Tembus Ratusan Ribu Sepanjang 2025 Dukung Mobilitas Antarkota

Jumat, 30 Januari 2026 | 10:44:14 WIB
Penumpang KA Gajayana Tembus Ratusan Ribu Sepanjang 2025 Dukung Mobilitas Antarkota

JAKARTA - Arus perjalanan antarkota di Pulau Jawa sepanjang 2025 menunjukkan konsistensi tinggi, salah satunya tercermin dari kinerja Kereta Api Gajayana. 

Layanan kereta jarak jauh ini kembali membuktikan perannya sebagai moda transportasi andalan masyarakat dengan catatan jumlah penumpang yang signifikan. Data PT Kereta Api Indonesia Persero memperlihatkan bagaimana kebutuhan mobilitas antarkota tetap terjaga, meski dinamika ekonomi dan sosial terus berkembang di berbagai daerah.

Sepanjang tahun 2025, KA Gajayana mencatatkan angka penumpang yang tidak kecil. Catatan tersebut sekaligus menggambarkan tingginya aktivitas perjalanan dari wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jakarta. Layanan yang konsisten, rute strategis, serta jadwal teratur menjadi faktor utama yang membuat kereta ini terus diminati oleh masyarakat lintas daerah.

Capaian penumpang KA Gajayana sepanjang 2025

PT Kereta Api Indonesia Persero mencatat jumlah penumpang KA Gajayana mencapai 380.715 orang sepanjang 2025. Angka tersebut menunjukkan peran penting layanan ini dalam menopang kebutuhan perjalanan antarkota yang terus berlangsung. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyebut capaian tersebut sejalan dengan tingginya kebutuhan mobilitas masyarakat, khususnya pada lintas Malang–Jakarta.

“Sepanjang tahun 2025, KA Gajayana melayani 380.715 pelanggan, sejalan dengan kebutuhan perjalanan masyarakat antarkota yang terus berlangsung pada lintas Malang–Jakarta dan wilayah yang dilaluinya,” ujar Anne dalam keterangan resmi, Kamis 29 Januari 2026. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa permintaan perjalanan jarak jauh masih stabil sepanjang tahun lalu.

Lintas Malang Jakarta jadi tulang punggung

KA Gajayana melayani relasi Malang Malang–Jakarta Gambir pulang pergi melalui lintas tengah Pulau Jawa. Jarak tempuh perjalanan ini sekitar 905 kilometer, menjadikannya salah satu rute panjang yang strategis. Kereta ini berhenti di sejumlah kota penting, mulai dari Malang, Blitar, Kediri, Madiun, Solo Balapan, Yogyakarta, Purwokerto, Cirebon, hingga berakhir di Stasiun Gambir.

Menurut Anne Purba, rute tersebut memiliki peran penting dalam menjaga keterhubungan antarwilayah dengan karakter ekonomi yang beragam. “KA Gajayana memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran perjalanan masyarakat serta menjaga keterhubungan antarwilayah di Pulau Jawa,” kata dia. Keterhubungan ini menjadi fondasi bagi mobilitas kerja, pendidikan, hingga aktivitas sosial.

Dukungan aktivitas ekonomi wilayah Jawa Timur

Wilayah Malang menjadi salah satu titik utama dalam perjalanan KA Gajayana. Aktivitas pendidikan, jasa, dan pariwisata di kota ini berkontribusi besar terhadap kebutuhan transportasi antarkota. Data Badan Pusat Statistik periode 2024 hingga 2025 menunjukkan sektor perdagangan dan jasa menjadi penopang utama perekonomian Malang, yang berkorelasi langsung dengan intensitas perjalanan keluar masuk daerah.

Di Blitar, Kediri, dan Madiun, kereta api juga menjadi sarana penting bagi mobilitas masyarakat. Perjalanan menggunakan KA Gajayana tidak hanya melayani kebutuhan individu, tetapi juga mendukung aktivitas pelaku usaha dan perjalanan keluarga. Anne menilai karakter perekonomian daerah-daerah tersebut selaras dengan kebutuhan layanan kereta api jarak jauh yang terjadwal. “Karakter perekonomian daerah itu, bertumpu pada perdagangan dan jasa selaras dengan kebutuhan layanan kereta api jarak jauh yang terjadwal,” lanjut Anne.

Peran kawasan budaya dan pendidikan Jawa Tengah

Memasuki wilayah Solo Balapan dan Yogyakarta, KA Gajayana melayani kawasan dengan aktivitas budaya dan pendidikan yang kuat. Publikasi BPS Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2025 mencatat pergerakan wisatawan nusantara yang cukup tinggi. Kondisi tersebut mencerminkan pentingnya peran transportasi kereta api dalam mendukung perjalanan wisata serta kegiatan sosial lintas daerah.

Kereta api menjadi pilihan bagi wisatawan maupun masyarakat yang memiliki agenda pendidikan dan kebudayaan. Dengan jadwal yang relatif stabil, KA Gajayana membantu menjaga kelancaran arus perjalanan menuju dan dari kawasan ini. Hal tersebut turut memperkuat posisi kereta api sebagai moda transportasi yang relevan di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat.

Purwokerto dan Cirebon sebagai simpul perjalanan

Purwokerto berperan sebagai simpul perjalanan masyarakat di wilayah Jawa Tengah bagian barat. Struktur Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Banyumas berdasarkan data BPS 2024 hingga 2025 menunjukkan dominasi sektor perdagangan dan jasa. Kondisi ini sejalan dengan kebutuhan perjalanan antarkota yang dilayani KA Gajayana secara rutin.

Selain itu, perjalanan KA Gajayana juga melayani Cirebon sebagai kota penghubung menuju wilayah Jawa Barat dan Jakarta. Aktivitas perjalanan di Cirebon berkaitan erat dengan sektor perdagangan, jasa, dan akomodasi. Tingkat hunian hotel yang relatif stabil sepanjang 2025 menjadi indikator tingginya arus mobilitas menuju kota tersebut.

Jakarta sebagai pusat akhir perjalanan

Seluruh rangkaian perjalanan KA Gajayana bermuara di Jakarta, yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan kegiatan bisnis nasional. Anne menjelaskan bahwa pola perjalanan pulang pergi antara daerah dan ibu kota terbentuk secara konsisten. “Perjalanan kerja, agenda institusional, serta mobilitas keluarga membentuk pola perjalanan pulang-pergi yang konsisten antara daerah dan ibu kota,” jelasnya.

Dengan capaian penumpang sepanjang 2025, KA Gajayana kembali menegaskan perannya sebagai penghubung utama antarkota di Pulau Jawa. Layanan ini tidak hanya memfasilitasi perjalanan, tetapi juga mendukung aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya lintas wilayah secara berkelanjutan.

Terkini