Lonjakan Harga Perak Global Dorong Minat Investor Beralih ke Aset Safe Haven

Selasa, 27 Januari 2026 | 15:36:37 WIB
Lonjakan Harga Perak Global Dorong Minat Investor Beralih ke Aset Safe Haven

JAKARTA - Pasar komoditas global kembali menunjukkan dinamika yang menarik pada Selasa, 27 Januari 2026, ketika harga perak melonjak lebih dari enam persen hingga menembus level di atas 110 dolar Amerika Serikat per ons troi. 

Kenaikan tajam ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran perdagangan internasional, yang mendorong investor untuk mengalihkan dananya dari instrumen berisiko menuju aset safe haven yang dinilai lebih aman dan stabil. Pergerakan tersebut sekaligus memperpanjang tren positif yang telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.

Kondisi ini menjadi perhatian pelaku pasar karena mencerminkan perubahan sentimen investasi global. Dalam situasi penuh ketidakpastian, logam mulia seperti perak dan emas sering kali menjadi pilihan utama untuk menjaga nilai aset. 

Lonjakan harga yang signifikan juga menandakan adanya permintaan yang kuat, baik dari sektor industri maupun investor ritel, yang sama-sama mencari perlindungan nilai di tengah volatilitas pasar keuangan.

Pergerakan Harga Perak dan Sentimen Pasar Global

Harga perak yang melonjak lebih dari enam persen hingga menembus 110 dolar per ons troi menjadi sorotan utama pasar pada Selasa, 27 Januari 2026. Kenaikan ini memperpanjang rekor penguatan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, seiring meningkatnya risiko geopolitik dan ketegangan perdagangan antarnegara. Investor memandang kondisi tersebut sebagai sinyal untuk mengamankan portofolio dengan beralih ke aset yang dianggap lebih aman dan berpotensi menjaga nilai kekayaan.

Menurut Trading Economics, dalam perkembangan terbaru, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif barang-barang Korea Selatan dari 15 persen menjadi 25 persen. Ancaman tersebut disampaikan dengan alasan adanya penundaan oleh badan legislatif Korea dalam menyetujui kesepakatan perdagangan yang telah dirundingkan sebelumnya. Situasi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya eskalasi perang dagang, sehingga mendorong pasar bereaksi cepat.

Dampak Ketegangan Perdagangan Terhadap Arah Investasi

Ancaman kenaikan tarif tersebut memperburuk sentimen pasar yang sebelumnya sudah dibayangi ketidakpastian. Investor global cenderung menghindari aset berisiko tinggi seperti saham dan obligasi pemerintah, lalu memindahkan dananya ke logam mulia. Perak, yang kerap disebut sebagai “emasnya orang kecil”, mendapatkan momentum karena harganya relatif lebih terjangkau namun memiliki potensi kenaikan yang signifikan.

Ketegangan perdagangan juga menambah tekanan pada mata uang dan instrumen keuangan lain. Ketika volatilitas meningkat, pelaku pasar biasanya mencari instrumen yang mampu bertahan dalam berbagai kondisi. Dalam konteks ini, perak dan logam mulia lain menjadi tujuan utama karena dianggap mampu memberikan perlindungan nilai di tengah fluktuasi ekonomi global yang tidak menentu.

Menanti Keputusan Kebijakan Federal Reserve Amerika Serikat

Selain faktor perdagangan, investor juga mencermati keputusan kebijakan Federal Reserve Amerika Serikat yang akan datang. Kekhawatiran mengenai independensi bank sentral serta spekulasi bahwa Presiden Trump mungkin akan mengumumkan ketua Fed baru dalam waktu dekat turut membayangi pasar. Situasi ini menambah ketidakpastian arah kebijakan moneter, yang pada akhirnya memengaruhi pergerakan harga aset global.

Ketidakpastian kebijakan moneter sering kali membuat investor bersikap lebih konservatif. Dalam kondisi seperti ini, logam mulia menjadi instrumen yang menarik karena tidak terpengaruh langsung oleh suku bunga atau kebijakan fiskal. Oleh karena itu, lonjakan harga perak juga mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan perubahan kebijakan yang berpotensi memicu gejolak di pasar keuangan.

Fenomena Perdagangan Penurunan Nilai Mata Uang

Perak dan logam mulia lainnya juga diuntungkan dari apa yang disebut sebagai perdagangan penurunan nilai mata uang. Dalam skenario ini, investor beralih dari obligasi dan mata uang menuju aset riil, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pengeluaran fiskal yang besar di negara-negara ekonomi utama. Kondisi tersebut menimbulkan risiko inflasi dan pelemahan mata uang, sehingga mendorong permintaan terhadap aset yang memiliki nilai intrinsik.

Perdagangan penurunan nilai mata uang menjadi strategi yang banyak digunakan ketika pasar memprediksi adanya pelemahan daya beli. Dengan memegang aset riil seperti perak, investor berharap dapat mempertahankan nilai kekayaan mereka. Lonjakan harga perak saat ini menunjukkan bahwa strategi tersebut semakin populer di kalangan pelaku pasar global.

Prospek Perak di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Kenaikan harga perak lebih dari enam persen dalam sehari mencerminkan tingginya minat investor terhadap logam mulia ini. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perak tidak hanya dipandang sebagai aset investasi, tetapi juga sebagai komoditas industri yang memiliki permintaan stabil. Kombinasi antara fungsi lindung nilai dan kebutuhan industri menjadikan perak memiliki prospek yang menarik dalam jangka menengah hingga panjang.

Namun, investor tetap perlu mencermati berbagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi pergerakan harga. Ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan, serta arah kebijakan moneter global akan terus menjadi penentu utama. Dengan memahami dinamika tersebut, investor diharapkan mampu mengambil keputusan yang lebih bijak dan terukur dalam mengelola portofolio mereka.

Lonjakan harga perak pada 27 Januari 2026 menjadi sinyal kuat bahwa pasar sedang mencari perlindungan dari ketidakpastian. Pelarian dana ke aset safe haven berlanjut, menegaskan peran penting logam mulia dalam strategi investasi global. Dalam situasi penuh tantangan ini, kehati-hatian dan pemahaman mendalam terhadap kondisi pasar menjadi kunci untuk menjaga stabilitas dan potensi keuntungan jangka panjang.

Terkini