JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto kembali dari lawatan ke Eropa dengan membawa kesepakatan investasi senilai 4 miliar poundsterling atau setara Rp91,67 triliun.
Meski nilainya fantastis, pertanyaan publik bukan hanya soal angka, melainkan bagaimana dampak nyata terhadap ekonomi Indonesia. Analis menilai efek awal investasi ini lebih terasa pada psikologi pasar dan persepsi investor dibandingkan kantong masyarakat secara langsung.
Ronny P. Sasmita, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), menekankan bahwa dalam jangka pendek, hasil diplomasi ekonomi belum akan langsung mendorong pertumbuhan ekonomi signifikan. Namun, kesepakatan ini mampu memperbaiki sentimen pasar dan meningkatkan kepercayaan investor, terutama di sektor maritim yang menjadi fokus kerja sama dengan Inggris.
Dampak psikologis dan persepsi pasar terhadap ekonomi nasional
Kesepakatan investasi ini memberi sinyal positif bahwa Indonesia tetap menjadi mitra strategis global. Persepsi pasar yang lebih baik dapat memengaruhi nilai tukar rupiah, sikap investor internasional, serta kepercayaan pelaku usaha domestik. Dalam banyak kasus, sentimen awal ini menjadi faktor pendorong sebelum realisasi investasi benar-benar terjadi di lapangan.
Selain itu, keberhasilan diplomasi ekonomi juga dinilai penting untuk membangun reputasi Indonesia sebagai negara yang kredibel dan konsisten dalam menjalin kerja sama internasional. Hal ini dapat membuka peluang kolaborasi di sektor lain seperti pendidikan, teknologi, dan infrastruktur, yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi jangka menengah.
Proyek pembangunan kapal ikan dan efek berantai ke sektor industri
Dalam jangka menengah, proyek pembangunan 1.582 kapal ikan di dalam negeri menjadi fokus utama. Ronny menilai proyek ini berpotensi menimbulkan efek berantai bagi industri galangan kapal, baja, komponen, logistik, serta kawasan pesisir. Proyeksi penyerapan tenaga kerja diperkirakan mencapai 600 ribu orang jika implementasi benar-benar mendukung kandungan lokal.
Namun, ia menekankan kunci keberhasilan bukan terletak pada jumlah nota kesepahaman, melainkan konsistensi eksekusi. Banyak MoU yang ditandatangani, tetapi tanpa tindak lanjut yang jelas, dampak terhadap ekonomi domestik akan minimal. Eksekusi yang kuat menjadi penentu apakah investasi ini benar-benar berdampak signifikan bagi masyarakat.
Kerja sama pendidikan sebagai investasi jangka panjang
Selain sektor industri, investasi juga mencakup kerja sama pendidikan dengan 24 universitas Inggris. Fokus pada STEM dan kedokteran diharapkan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dampak dari kerja sama ini baru akan terasa lima hingga sepuluh tahun ke depan, tetapi penting untuk daya saing nasional.
Ronny menyoroti bahwa peningkatan kualitas SDM merupakan modal strategis bagi Indonesia dalam jangka panjang, terutama di sektor maritim, teknologi, dan tata kelola pemerintahan. Kolaborasi pendidikan ini juga memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi ekonomi global.
Peran soft power dalam memperkuat posisi geopolitik Indonesia
Selain ekonomi, keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace untuk Gaza menjadi elemen soft power penting. Partisipasi ini dapat memperkuat posisi geopolitik dan membuka akses pasar baru melalui diplomasi yang kredibel. Reputasi internasional yang kuat membantu menarik investor serta memperluas kerja sama multilateral.
Dengan demikian, hasil kunjungan Prabowo bukan hanya investasi finansial, tetapi juga strategi untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global. Persepsi positif terhadap kemampuan diplomasi ekonomi dapat mendorong arus investasi jangka panjang dan memengaruhi kebijakan investor internasional.
Tantangan realisasi dan pengawasan implementasi proyek
Keberhasilan investasi sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan proyek, sinergi antar kementerian, serta keberpihakan pada industri dan tenaga kerja domestik. Jika ketiganya berjalan baik, diplomasi ekonomi ini bisa menjadi salah satu yang paling produktif dalam satu dekade terakhir. Namun, tanpa eksekusi, hasilnya hanya sebatas foto bersama dan siaran pers.
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengingatkan publik untuk tidak terlalu larut dalam euforia angka investasi. Narasi presiden membawa “oleh-oleh” investasi sejatinya bukan hal baru, dan tanpa tindak lanjut yang jelas, dampak terhadap ekonomi domestik minimal.
Huda menambahkan, pekerjaan rumah pemerintah masih banyak, mulai dari isu lingkungan hingga praktik pungutan liar, yang dapat mengurangi minat investor. Tanpa kebijakan konsisten dan eksekusi nyata, investasi besar tetap akan berhenti di level wacana, sehingga efek riil bagi pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja menjadi terbatas.
Investasi strategis maritim dan kerjasama multilateral
Dalam lawatan ke Inggris, Swiss, dan Prancis, Prabowo menekankan pembangunan 1.582 kapal ikan, kerja sama pendidikan, serta keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace. Selain itu, ia memaparkan konsep ekonomi nasional “Prabowonomics” di WEF Davos, memperkuat kerja sama strategis di berbagai sektor.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut bahwa capaian ini menekankan strategi pembangunan sektor maritim, penguatan SDM, serta diplomasi internasional. Dengan eksekusi yang tepat, investasi ini dapat menimbulkan dampak berkelanjutan bagi pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing global Indonesia.