JAKARTA - Perkembangan industri kecantikan global kini memasuki fase yang berbeda dibandingkan satu dekade lalu.
Inovasi tidak lagi hanya berfokus pada estetika kemasan atau formulasi produk, melainkan bergeser ke pemanfaatan teknologi canggih sebagai fondasi utama. Artificial intelligence, bioteknologi, serta personalisasi berbasis data menjadi penentu daya saing baru dalam industri ini, termasuk di pasar Indonesia yang terus bertumbuh.
Laporan Grand View Research yang dikutip Asosiasi Kosmetik Kontrak Manufaktur Indonesia menyebutkan pasar beauty tech global diproyeksikan tumbuh rata rata 17 hingga 18 persen per tahun. Nilai pasar tersebut diperkirakan mencapai US$173 miliar pada 2030, jauh melampaui pertumbuhan industri beauty dan personal care global yang berada di kisaran 7 persen CAGR. Data ini menunjukkan bahwa teknologi telah menjadi mesin pertumbuhan baru bagi industri kecantikan dunia.
Ketua Dewan Pembina AKKMI Halim Nababan menilai perubahan ini sebagai sinyal penting bagi seluruh pelaku industri. Menurutnya, kecantikan tidak lagi berdiri sebagai produk konsumsi semata, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem berbasis teknologi yang kompleks. Beauty tech tidak hanya bersifat tren, melainkan game changer yang mengubah struktur industri kecantikan secara menyeluruh, termasuk di Indonesia.
Perubahan Paradigma Industri Kecantikan
Pergeseran ke arah beauty tech menandai perubahan paradigma yang signifikan. Industri kecantikan kini bergerak dari pendekatan mass product menuju solusi yang lebih presisi dan berbasis data. Teknologi memungkinkan perusahaan memahami kebutuhan konsumen secara lebih mendalam, sekaligus meningkatkan efisiensi dalam riset dan pengembangan.
“Industri kecantikan Indonesia sekarang bukan hanya bicara estetika, tetapi teknologi yang mendukungnya. Teknologi itu bukan sekadar perangkat, melainkan sistem yang membangun ekosistem kecantikan, mempercepat waktu, menekan biaya, sekaligus menjaga sustainability,” ujar Halim. Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana teknologi menjadi tulang punggung transformasi industri.
Dalam konteks ini, beauty tech juga mendorong integrasi antara sains, data, dan inovasi berkelanjutan. Perusahaan dituntut tidak hanya menciptakan produk menarik, tetapi juga sistem yang mampu menjawab tantangan efisiensi, keberlanjutan, dan relevansi pasar yang semakin dinamis.
Personalisasi Berbasis Teknologi Canggih
Salah satu wujud paling nyata dari beauty tech adalah personalisasi berbasis AI. Melalui pemindaian wajah dan analisis kulit berbasis data, konsumen dapat memperoleh rekomendasi produk yang disesuaikan dengan kondisi spesifik mereka. Pendekatan ini bahkan berkembang ke arah microbiome dan epigenetic skincare yang mempertimbangkan faktor genetik serta lingkungan.
Teknologi tersebut mengubah cara konsumen berinteraksi dengan produk kecantikan. Konsumen tidak lagi mengandalkan klaim umum, tetapi mendapatkan solusi yang dirancang khusus berdasarkan data pribadi mereka. Hal ini sekaligus meningkatkan kepercayaan dan kepuasan konsumen terhadap produk yang digunakan.
Di Indonesia, penerapan personalisasi ini mulai terlihat seiring meningkatnya adopsi teknologi digital di sektor kecantikan. Transformasi ini membuka peluang besar bagi pelaku industri lokal untuk bersaing di tingkat global dengan pendekatan yang lebih relevan dan berbasis sains.
Langkah Strategis ParagonCorp
Transformasi beauty tech di Indonesia tercermin dari langkah PT Paragon Technology and Innovation yang memperkuat komitmennya sebagai Purposeful Beauty Tech Company. Melalui ajang Beauty Science and Technology 2026, Paragon menegaskan bahwa masa depan industri kecantikan bertumpu pada sains, teknologi, serta dampak bermakna bagi masyarakat.
Pendekatan Beauty Rewired yang diusung ParagonCorp memaknai kecantikan secara holistik. Sains dijadikan fondasi presisi dalam setiap proses riset dan pengembangan produk. Teknologi dan kolaborasi dimanfaatkan untuk mempersonalisasi kebutuhan konsumen yang semakin hypersegmented, tanpa meninggalkan nilai etika dan tanggung jawab.
Group CEO ParagonCorp Harman Subakat menegaskan bahwa pertumbuhan jangka panjang industri kecantikan tidak bisa dilepaskan dari nilai dan dampak sosial. “Selama 40 tahun berdiri, kebermanfaatan selalu menjadi tujuan utama pertumbuhan Paragon. Kami mengejar kebermanfaatan, dan dari sanalah pertumbuhan mengikuti,” ujarnya.
Inovasi Yang Berpijak Pada Nilai
Komitmen ParagonCorp terhadap inovasi berkelanjutan juga ditekankan melalui pemanfaatan sains dan teknologi yang bertanggung jawab. Harman menyebutkan bahwa transformasi menjadi Purposeful Beauty Tech Company dilakukan dengan dukungan kolaborasi bersama para expert dan mitra global. Inovasi diarahkan agar memberikan dampak positif bagi konsumen, masyarakat, dan lingkungan.
“Dengan memanfaatkan sains dan teknologi serta didukung kolaborasi dengan para expert dan global partners, ParagonCorp hari ini bertransformasi menjadi Purposeful Beauty Tech Company, yang menghadirkan inovasi, yang berdampak bagi konsumen, masyarakat dan bumi,” jelasnya. Pernyataan ini menegaskan posisi nilai sebagai bagian integral dari strategi bisnis.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa beauty tech tidak hanya mengejar kemajuan teknologi, tetapi juga keberlanjutan dan inklusivitas. Hal ini menjadi pembeda penting di tengah kompetisi industri kecantikan global yang semakin ketat.
Peran Riset Dan Data Dalam Inovasi
EVP dan Global Chief Business Officer ParagonCorp Amalia Sarah Santi menegaskan bahwa inovasi kini tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan konsumen yang semakin personal. “Konsumen hari ini menuntut solusi yang relevan dengan kondisi mereka masing masing. Karena itu, integrasi AI, bioteknologi, dan riset berbasis data menjadi fondasi utama kami dalam mengembangkan produk yang aman, efektif, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Menurut Amalia, Paragon tidak sekadar menghadirkan produk baru, tetapi membangun sistem yang membantu konsumen memahami kebutuhan kulitnya secara lebih presisi. “Kami tidak hanya menghadirkan produk, tetapi solusi yang meningkatkan kualitas hidup melalui inovasi yang transparan dan berbasis data,” tambahnya.
Dari sisi riset, Deputy CEO dan Chief R and D Officer ParagonCorp dr. Sari Chairunnisa menjelaskan bahwa teknologi telah mengubah cara industri memandang kulit manusia. Pendekatan berbasis biometric science, genomic, dan microbiome research membuka pemahaman baru bahwa kulit adalah sistem biologis yang kompleks, sehingga solusi kecantikan harus dirancang secara presisi dan bertanggung jawab.
Dengan lebih dari 20 mitra teknologi global dan puluhan pengalaman konsumen berbasis AI, ParagonCorp membangun ekosistem beauty tech terintegrasi. Langkah ini sejalan dengan arah industri kecantikan global, di mana nilai tambah tidak lagi hanya terletak pada produk, tetapi pada data, teknologi, dan sistem yang menopangnya.