Target Produksi Mobil Listrik Polytron Tahun 2025 Tak Tercapai Akibat Tantangan Teknis

Rabu, 21 Januari 2026 | 13:44:00 WIB
Target Produksi Mobil Listrik Polytron Tahun 2025 Tak Tercapai Akibat Tantangan Teknis

JAKARTA - Langkah ekspansi ke industri kendaraan listrik kerap dipandang sebagai lompatan strategis bagi perusahaan elektronik nasional. 

Namun, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus seperti yang dibayangkan di atas kertas. Hal inilah yang dialami Polytron ketika memasuki fase awal produksi mobil listrik. Target yang disusun dengan optimisme tinggi pada 2025 ternyata harus direvisi seiring kompleksitas teknis di lapangan.

Perusahaan mengakui bahwa realisasi produksi mobil listrik sepanjang 2025 belum sesuai dengan perhitungan awal. Meski demikian, capaian tersebut tetap dianggap penting sebagai fondasi awal Polytron dalam bertransformasi dari produsen elektronik rumah tangga menjadi pemain di sektor transportasi ramah lingkungan yang memiliki standar jauh lebih ketat.

Target produksi mobil listrik belum sesuai harapan awal

Commercial Director Polytron, Tekno Wibowo, secara terbuka menyampaikan bahwa target produksi mobil listrik perusahaan pada 2025 meleset dari rencana. Realisasi produksi yang tercapai masih berada di kisaran ratusan unit, jauh di bawah target awal yang dipatok lebih tinggi.

“Kami menyadari bahwa ternyata merakit mobil tidak semudah yang kita bayangkan di awal. Banyak sekali penyesuaian teknis dan penyeimbangan lini produksi yang harus kami lakukan secara mendalam. Inilah penyebab utama mengapa target produksi kami tahun lalu meleset,” kata Tekno di Latio Plataran, 20 Januari 2026.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa proses transisi ke industri otomotif menghadirkan tantangan baru yang berbeda dari pengalaman Polytron di sektor elektronik. Setiap tahapan produksi membutuhkan akurasi tinggi, konsistensi mutu, serta kesiapan sistem manufaktur yang matang.

Realisasi penjualan masih ratusan unit

Berdasarkan data penjualan ritel yang tercatat di Gaikindo, realisasi penjualan mobil listrik Polytron sepanjang 2025 berada di angka sekitar 350-an unit. Angka ini masih berada di bawah target awal perusahaan yang dipatok di kisaran 500 hingga 600 unit.

Meski demikian, Polytron menilai pencapaian tersebut tetap memiliki arti strategis. Sebagai pemain baru di industri kendaraan listrik, ratusan unit yang berhasil dipasarkan dianggap sebagai pijakan awal untuk memahami pasar, menguji kesiapan produk, sekaligus menyempurnakan proses produksi secara berkelanjutan.

Perusahaan menegaskan bahwa fase awal ini lebih difokuskan pada pembelajaran dan penyesuaian internal dibandingkan mengejar volume semata. Dengan demikian, setiap unit yang diproduksi menjadi bagian dari proses evaluasi untuk meningkatkan kualitas di tahap berikutnya.

Penyesuaian lini produksi jadi tantangan utama

Tekno menjelaskan bahwa DNA manufaktur Polytron memang menjadi modal penting saat memasuki industri otomotif. Namun, karakter produksi kendaraan listrik menuntut presisi yang berbeda dibandingkan produk elektronik konsumen. Penyetelan teknis yang detail, kestabilan kualitas, serta ritme produksi yang konsisten menjadi keharusan.

Menurutnya, proses “penyesuaian lini” inilah yang menjadi faktor terbesar di balik melesetnya target produksi 2025. Setiap komponen harus terintegrasi dengan standar keselamatan dan performa yang ketat, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai keseimbangan produksi yang optimal.

Selain itu, koordinasi antarbagian dalam rantai produksi juga menjadi tantangan tersendiri. Berbeda dengan elektronik, kendaraan listrik memiliki sistem yang saling terkait, mulai dari baterai, motor listrik, hingga sistem kontrol yang harus diuji berlapis sebelum dilepas ke pasar.

Fokus baru pada peningkatan TKDN

Memasuki 2026, fokus Polytron mulai bergeser ke tantangan yang lebih struktural, yakni peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri. Saat ini, kandungan lokal mobil listrik Polytron masih berada di kisaran 40 persen. Perusahaan menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 60 persen pada akhir 2026.

“Target 60 persen itu harus dikejar tahun ini. Aturannya memang akan lebih ketat di 2027, kecuali jika ada perubahan regulasi. Bagi kami, meningkatkan TKDN bukan sekadar mengganti komponen, tapi membangun ekosistem pemasok lokal yang andal,” ujar Tekno.

Pernyataan ini menegaskan bahwa strategi TKDN tidak hanya berorientasi pada kepatuhan regulasi, tetapi juga pada penguatan industri nasional. Polytron melihat peningkatan kandungan lokal sebagai investasi jangka panjang untuk keberlanjutan bisnis kendaraan listrik.

Membangun ekosistem pemasok lokal

Upaya meningkatkan TKDN menuntut kesiapan rantai pasok dalam negeri. Polytron menilai bahwa tantangan terbesar bukan hanya menemukan pemasok lokal, tetapi memastikan mereka mampu memenuhi standar kualitas, konsistensi, dan volume produksi yang dibutuhkan industri otomotif.

Pembangunan ekosistem ini membutuhkan waktu dan kolaborasi yang erat antara produsen, pemasok, serta pemangku kepentingan terkait. Polytron menekankan bahwa keberhasilan TKDN tidak bisa dicapai secara instan, melainkan melalui proses bertahap yang berkelanjutan.

Dengan memperkuat ekosistem lokal, perusahaan berharap dapat menciptakan struktur produksi yang lebih efisien sekaligus mengurangi ketergantungan pada komponen impor. Langkah ini juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri pendukung kendaraan listrik di dalam negeri.

Langkah jangka panjang di industri kendaraan listrik

Meski target 2025 tidak tercapai, Polytron menegaskan komitmennya untuk tetap melanjutkan ekspansi di industri kendaraan listrik. Perusahaan memandang fase awal ini sebagai bagian dari proses pembelajaran yang wajar dalam memasuki sektor baru dengan tingkat kompleksitas tinggi.

Ke depan, Polytron akan memanfaatkan pengalaman 2025 sebagai dasar untuk memperbaiki perencanaan produksi, memperkuat lini manufaktur, serta meningkatkan kandungan lokal. Dengan pendekatan tersebut, perusahaan optimistis dapat memperkuat posisinya di pasar kendaraan listrik nasional secara bertahap.

Transformasi dari produsen elektronik ke pemain otomotif memang tidak mudah. Namun, Polytron meyakini bahwa dengan penyesuaian strategi dan konsistensi investasi, langkah ini akan menjadi fondasi penting bagi kontribusi perusahaan dalam pengembangan transportasi hijau di Indonesia.

Terkini