Rehabilitasi Lingkungan Tambang Nikel Konawe Capai Ratusan Hektare Sepanjang Tahun 2025

Rabu, 21 Januari 2026 | 09:14:08 WIB
Rehabilitasi Lingkungan Tambang Nikel Konawe Capai Ratusan Hektare Sepanjang Tahun 2025

JAKARTA - Upaya pengelolaan lingkungan kini menjadi tolok ukur penting dalam industri pertambangan nasional. 

Di tengah sorotan publik terhadap dampak aktivitas ekstraktif, sejumlah perusahaan mulai menunjukkan langkah konkret menjaga keseimbangan alam. Salah satunya terlihat dari aktivitas pertambangan nikel di Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara, yang sepanjang 2025 mencatatkan berbagai capaian lingkungan sebagai bagian dari operasional berkelanjutan.

PT Gema Kreasi Perdana atau PT GKP melaporkan kinerja pengelolaan lingkungan yang mencakup pengendalian air limbah tambang, rehabilitasi hutan dan daerah aliran sungai, reklamasi lahan, hingga penanaman mangrove di wilayah pesisir. Program tersebut dilaksanakan di Kabupaten Konawe Kepulauan dan wilayah sekitarnya dengan pendekatan bertahap serta pengawasan regulatif.

Pengelolaan air limbah jadi prioritas utama

Salah satu fokus utama PT GKP sepanjang 2025 adalah pengelolaan air limbah tambang. Perusahaan menyebutkan bahwa kualitas air limbah yang dihasilkan dari aktivitas pertambangan tercatat 100 persen memenuhi baku mutu lingkungan yang ditetapkan pemerintah. 

Capaian ini dinilai sebagai hasil dari penguatan sistem dan infrastruktur pengendalian lingkungan yang telah dibangun sejak beberapa tahun terakhir.

Environment and Forestry Superintendent PT GKP, Badrus Soleh, menegaskan bahwa air merupakan aspek paling krusial dalam operasional tambang. Menurutnya, sepanjang 2025 hasil pemantauan kualitas air limbah menunjukkan angka konsisten berada di bawah ambang batas baku mutu. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan tertulis pada Selasa, 20 Januari 2026.

Untuk mendukung hasil tersebut, perusahaan melakukan perluasan settling pond secara bertahap sejak 2023. Hingga Desember 2025, total luas settling pond yang dikembangkan mencapai 4,88 hektare. Infrastruktur ini menjadi bagian dari sistem pengendalian lingkungan agar aktivitas tambang tidak berdampak pada perairan sekitar.

Rehabilitasi hutan dan DAS ratusan hektare

Selain pengelolaan air, capaian signifikan juga dicatat di sektor kehutanan. Sepanjang 2025, PT GKP merealisasikan rehabilitasi hutan dan daerah aliran sungai seluas 743 hektare di Kabupaten Konawe Kepulauan dan Konawe Selatan. Program ini dilaksanakan sebagai bentuk pemulihan ekosistem darat yang terdampak aktivitas manusia.

Seluruh kegiatan penanaman dalam program rehabilitasi DAS tersebut telah mencapai 100 persen. Setelah tahap penanaman selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pemeliharaan tahun pertama yang dibimbing oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai atau BPDAS Konaweha. Pendampingan ini bertujuan memastikan tanaman tumbuh optimal dan berfungsi ekologis.

Rehabilitasi DAS dinilai penting untuk menjaga keseimbangan hidrologi, mencegah erosi, serta melindungi keanekaragaman hayati. Upaya ini juga berkontribusi dalam menjaga kualitas lingkungan hidup masyarakat yang berada di sekitar wilayah tambang.

Reklamasi lahan dan produksi bibit tanaman

Di area tambang, PT GKP juga melaksanakan reklamasi lahan secara berkelanjutan. Hingga akhir 2025, perusahaan telah mereklamasi lahan seluas 19,77 hektare. Reklamasi dilakukan untuk memulihkan fungsi lahan pascatambang agar dapat kembali dimanfaatkan secara ekologis maupun sosial.

Untuk mendukung kegiatan reklamasi dan penghijauan, perusahaan mengoperasikan nursery internal. Sepanjang 2025, nursery tersebut memproduksi sebanyak 15.054 bibit tanaman. Bibit ini digunakan untuk reklamasi area tambang serta kegiatan rehabilitasi lingkungan lainnya.

Produksi bibit secara mandiri dinilai mempermudah perusahaan dalam memastikan ketersediaan tanaman sesuai kebutuhan lapangan. Selain itu, langkah ini juga menjadi bagian dari efisiensi dan kontrol kualitas dalam program lingkungan jangka panjang.

Perlindungan ekosistem pesisir melalui mangrove

Pengelolaan lingkungan PT GKP tidak hanya terfokus pada wilayah daratan, tetapi juga menjangkau kawasan pesisir. Sepanjang Pantai Wawonii, perusahaan telah menanam sebanyak 10.000 bibit mangrove hingga akhir 2025. Penanaman ini dilakukan sebagai upaya perlindungan ekosistem pesisir dan garis pantai.

Mangrove memiliki peran penting dalam menahan abrasi, menjadi habitat biota laut, serta menyerap karbon. Dengan penanaman mangrove, perusahaan berharap ekosistem pesisir tetap terjaga sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekitar yang bergantung pada sumber daya laut.

Program ini juga menjadi bagian dari pendekatan terpadu pengelolaan lingkungan, di mana aktivitas darat dan laut dipandang saling berkaitan dalam satu kesatuan ekosistem.

Komitmen perusahaan dan tanggapan masyarakat

Strategic Communication Manager PT GKP, Hendry Drajat, menyampaikan bahwa seluruh capaian tersebut merupakan wujud komitmen perusahaan dalam menjalankan praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa pertambangan hanya dapat berjalan secara berkelanjutan jika lingkungan dan masyarakat sekitar ikut terlindungi.

Menurut Hendry, transparansi dan kinerja lingkungan menjadi fondasi utama operasional perusahaan. Pendekatan ini juga diharapkan dapat membangun kepercayaan publik terhadap industri pertambangan, khususnya di wilayah yang memiliki sensitivitas ekologis tinggi seperti Pulau Wawonii.

Dari sisi masyarakat, manfaat program lingkungan tersebut mulai dirasakan. Warga Desa Teporoko, Sumarni, menyampaikan bahwa kondisi lingkungan pesisir menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik seiring kegiatan penanaman mangrove dan reklamasi lahan. Penilaian positif juga datang dari kalangan akademisi. 

Guru Besar Jurusan Kehutanan Universitas Halu Oleo, Husna, menilai capaian tersebut sebagai langkah positif dalam praktik pertambangan nikel, di mana kualitas ekologi dan keanekaragaman hayati tetap dijaga melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.

Terkini