JAKARTA - Pergerakan harga batu bara kembali menjadi sorotan pelaku pasar komoditas global.
Memasuki pekan ketiga Januari 2026, batu bara menunjukkan penguatan yang konsisten dan berhasil mencatatkan level harga tertinggi dalam lebih dari satu bulan terakhir. Kondisi ini memberi sinyal positif di tengah dinamika transisi energi dunia yang masih berjalan bertahap.
Kenaikan harga tersebut terjadi di tengah beragam sentimen global, mulai dari kebutuhan energi yang masih tinggi hingga realitas bahwa sejumlah negara besar belum sepenuhnya dapat melepaskan ketergantungan pada batu bara. Data perdagangan terbaru pun menunjukkan bahwa komoditas ini masih memainkan peran penting dalam menopang pasokan energi dunia.
Harga Batu Bara Menguat Dua Hari Beruntun
Pada perdagangan Senin (19/1/2026), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup di level US$ 109,1 per ton. Harga tersebut menguat 0,23% dibandingkan posisi akhir pekan lalu dan menjadi yang tertinggi sejak 10 Desember 2025 atau lebih dari sebulan terakhir.
Capaian ini sekaligus menandai kenaikan harga batu bara selama dua hari berturut-turut. Dalam periode tersebut, harga komoditas energi ini telah terangkat sebesar 0,65%. Penguatan beruntun ini menunjukkan adanya minat beli yang kembali menguat di pasar.
Pergerakan positif tersebut juga memperlihatkan bahwa sentimen terhadap batu bara masih cukup solid, meskipun isu transisi energi dan pengurangan emisi terus digaungkan di berbagai forum internasional.
Awal Tahun Positif Untuk Batu Bara
Memasuki awal tahun 2026, batu bara mencatatkan performa yang cukup menjanjikan. Secara year to date, harga batu bara telah naik sekitar 1,5% secara point to point. Catatan ini memberi gambaran bahwa batu bara masih memiliki daya tarik tersendiri di pasar komoditas global.
Kenaikan harga di awal tahun sering kali menjadi indikator awal arah pergerakan pasar selanjutnya. Bagi pelaku industri dan investor, tren positif ini dapat menjadi dasar pertimbangan dalam menyusun strategi jangka pendek maupun menengah.
Meskipun fluktuasi tetap berpotensi terjadi, performa awal tahun ini menegaskan bahwa batu bara belum kehilangan perannya sebagai salah satu sumber energi utama dunia.
Ketergantungan Global Terhadap Batu Bara
Di tengah gencarnya pengembangan energi baru dan terbarukan, dunia ternyata masih belum bisa sepenuhnya lepas dari batu bara. Negara dengan konsumsi energi besar seperti China masih menunjukkan ketergantungan yang signifikan terhadap komoditas ini.
Di China, terdapat rencana untuk menyiapkan lebih dari 100 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) pada tahun ini. Langkah tersebut mencerminkan kebutuhan energi yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan industri.
Batu bara juga masih mendominasi bauran energi di China. Dalam periode Oktober 2024 hingga September 2025, batu bara tercatat menyumbang sekitar 55,5% dari total bauran energi di negara tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa transisi energi membutuhkan waktu dan proses yang tidak singkat.
Analisis Teknikal Pergerakan Harga
Dari sisi analisis teknikal, pergerakan harga batu bara menunjukkan sinyal yang menarik untuk dicermati. Dengan perspektif harian atau daily time frame, harga batu bara berada di zona bullish. Hal ini tercermin dari indikator Relative Strength Index atau RSI 14 hari yang berada di level 55.
RSI di atas angka 50 mengindikasikan bahwa suatu aset sedang berada dalam tren bullish. Artinya, tekanan beli masih relatif lebih kuat dibandingkan tekanan jual. Kondisi ini mendukung peluang harga untuk bertahan di level yang lebih tinggi.
Namun demikian, indikator Stochastic RSI 14 hari berada di level 93. Angka ini sudah jauh di atas level 80 yang menandakan kondisi jenuh beli atau overbought. Situasi tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi memicu koreksi harga dalam jangka pendek.
Peluang Koreksi Dan Level Kunci Harga
Untuk perdagangan hari ini, Selasa, harga batu bara dinilai memiliki risiko untuk mengalami penurunan terbatas. Pelaku pasar disarankan mencermati level pivot point di kisaran US$ 107 per ton sebagai titik penting.
Jika tekanan jual meningkat, harga batu bara berpotensi menguji area support di kisaran US$ 106 hingga US$ 105 per ton. Area ini menjadi batas bawah yang perlu diperhatikan untuk melihat kekuatan tren selanjutnya.
Sebaliknya, apabila sentimen positif masih mampu mendorong harga naik, batu bara berpeluang menguji level resisten di US$ 110 per ton. Penembusan di level tersebut dapat membuka jalan bagi kenaikan lanjutan menuju rentang US$ 113 hingga US$ 117 per ton. Pergerakan di area ini akan menjadi penentu arah harga batu bara dalam waktu dekat.