JAKARTA - Kegagalan kembali menghampiri Mohamed Salah di panggung internasional.
Piala Afrika 2025 yang diharapkan menjadi pelarian emosional justru berakhir dengan cerita lama, Mesir tersingkir sebelum mencapai puncak, meninggalkan tanda tanya besar bagi sang kapten.
Di Tangier, setelah peluit panjang berbunyi, tak ada luapan emosi dari Salah. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang mencerminkan kelelahan batin dari perjuangan panjang yang kembali tak berbuah gelar.
Untuk kesekian kalinya, Senegal menjadi tembok terakhir. Kali ini dipimpin Sadio Mane, sosok yang dulu berjalan seiring dengan Salah di Liverpool, namun kini berdiri di sisi berseberangan dalam kisah pahit timnas Mesir.
Meski gagal juara, peran Salah sepanjang turnamen tak bisa diabaikan. Ia menjadi poros permainan, sumber gol, sekaligus pemimpin ruang ganti yang membawa Mesir menembus empat besar.
Peran Sentral Salah Sepanjang Turnamen
Sepanjang Piala Afrika 2025 di Maroko, Salah tampil sebagai figur paling menentukan bagi Mesir. Ia bermain sejak menit awal dalam lima pertandingan dan mencetak empat gol penting.
Kontribusinya menjadi alasan utama Mesir mampu bertahan di jalur persaingan hingga semifinal. Setiap serangan kerap bermuara padanya, baik sebagai pencetak gol maupun pembuka ruang.
Usai kemenangan perempat final atas Pantai Gading, Salah bahkan menyebut skuad kali ini sebagai yang terbaik selama ia membela timnas.
"Kami semua dekat, saling menyayangi, sering menghabiskan waktu bersama. Humornya luar biasa, dan kami bekerja keras baik di dalam maupun di luar lapangan," kata Salah.
Namun, kebersamaan itu kembali harus berakhir tanpa trofi. Kekalahan di semifinal menambah luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.
Setelah laga perebutan tempat ketiga melawan Nigeria di Casablanca, Sabtu malam WIB, Salah dijadwalkan kembali ke Merseyside dengan membawa rasa kecewa.
Menanti Kepulangan ke Liverpool
Kepulangan Salah ke Anfield datang dalam situasi yang tidak sederhana. Penampilan terakhirnya sebagai starter Liverpool terjadi pada 26 November, saat The Reds kalah telak dari PSV Eindhoven di Liga Champions.
Sejak itu, Liverpool justru mencatatkan 11 pertandingan tanpa kekalahan. Enam kemenangan dan lima hasil imbang diraih, meski performa tim sering menuai kritik.
Pelatih Arne Slot bahkan mengakui bahwa permainan timnya belakangan dianggap membosankan oleh sebagian pihak. Namun, hasil tetap menjadi pegangan utama.
Ketidakhadiran Salah juga sempat dibumbui kontroversi. Lebih dari sebulan lalu, ia melontarkan kritik keras kepada klub usai dicadangkan dalam tiga laga beruntun.
Dalam wawancara di Leeds, Salah menuding klub telah “mengorbankannya” dan mengklaim hubungannya dengan Slot mengalami keretakan.
Akibat situasi itu, Salah tak dibawa ke markas Inter Milan di Liga Champions. Meski demikian, ia tidak didenda dan kembali masuk skuad saat melawan Brighton.
Masuk sebagai pemain pengganti, Salah langsung memberi dampak dengan menyumbang assist. Anfield menyambutnya dengan hangat lewat nyanyian khas untuk sang Raja Mesir.
Jadwal Kembali Bermain Masih Menunggu
Meski telah menyelesaikan tugas internasionalnya, Salah belum bisa langsung memperkuat Liverpool. Aturan FIFA mewajibkan pemain tetap bersama timnas hingga pagi hari setelah laga terakhir.
Karena Mesir masih menjalani laga perebutan tempat ketiga, Salah baru akan kembali ke Inggris pada Minggu. Ia dipastikan absen saat Liverpool menghadapi Burnley.
Liverpool belum memberikan konfirmasi resmi soal ketersediaan Salah. Namun, Arne Slot diperkirakan akan mendapat pertanyaan terkait sang bintang.
Kemungkinan besar, Salah akan kembali masuk skuad untuk laga tandang ke Marseille di Liga Champions pekan depan.
Setelah itu, Liverpool dijadwalkan bertandang ke Bournemouth di Premier League. Kembalinya Salah diharapkan memberi variasi serangan yang sempat menurun.
Masa Depan yang Masih Abu-Abu
Kegagalan di Piala Afrika kembali menambah beban emosional Salah. Ia secara terbuka mengakui betapa besarnya keinginannya meraih trofi tersebut.
"Saya tidak berpikir ada orang di negara ini yang lebih ingin memenangkan trofi ini selain saya. Saya sudah memenangkan segalanya dalam sepak bola, kecuali yang satu ini," ujar Salah.
Piala Afrika memang selalu menjadi cerita pahit. Pada final 2021, ia tak sempat mengambil penalti penentu, sementara Mane membawa Senegal juara.
Pada edisi 2023, ia bahkan dikritik karena meninggalkan turnamen lebih awal akibat cedera. Kini, kegagalan di 2025 kembali memperpanjang penantian.
Kesempatan berikutnya mungkin hadir pada Piala Afrika 2027. Saat itu, Salah akan berusia 35 tahun dan kontraknya bersama Liverpool juga berakhir.
Secara fisik ia masih berada di level tertinggi. Namun, dengan semua dinamika yang terjadi, arah karier Mohamed Salah kini benar-benar berada di persimpangan.