13 Makanan Khas Papua yang Unik Serta Penuh dengan Kelezatan!

Senin, 05 Januari 2026 | 09:15:19 WIB
makanan khas papua

Jakarta - Makanan khas papua menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Papua yang dikenal memiliki ragam tradisi, kuliner unik, serta bentang alam yang memukau. 

Wilayah ini berada di pesisir utara Tanah Papua dan resmi menjadi bagian dari Indonesia sejak 1 Mei 1963.

Dahulu dikenal dengan nama Irian Jaya, Papua sempat mencakup seluruh wilayah Tanah Papua bekas Nugini Belanda. 

Seiring perkembangan administratif, sejak 30 Juni 2022 wilayah ini mengalami pemekaran menjadi beberapa provinsi baru, yaitu Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan, sementara bagian baratnya lebih dulu berdiri sebagai Papua Barat. 

Sebelum pemekaran, Papua memiliki luas sekitar 312 ribu kilometer persegi dan tercatat sebagai provinsi terluas di Indonesia.

Dari sisi ekonomi, Papua menyimpan potensi besar berkat kekayaan alamnya yang melimpah, meski hingga kini pemanfaatannya masih belum sepenuhnya optimal dan sebagian sektor masih bergantung pada industri tambang. 

Namun, pesona Papua tidak hanya terletak pada sumber daya alam, melainkan juga pada kekayaan kuliner tradisional yang mencerminkan kearifan lokal dan identitas masyarakatnya.

Karena itu, bagi siapa pun yang berencana berkunjung ke wilayah ini, mengenal dan mencicipi aneka hidangan tradisional menjadi pengalaman yang sayang untuk dilewatkan, terutama ragam makanan khas papua.

13 Makanan Khas Papua

Tanpa perlu menunggu lebih lama, berikut pembahasan lengkap seputar makanan khas papua yang menarik untuk dikenali. Pastikan kamu menyimak ulasannya hingga akhir agar tidak melewatkan informasi penting.

1. Olahan Tepung Sagu
Sagu merupakan bahan pangan tradisional yang banyak dimanfaatkan di wilayah timur Indonesia, termasuk Papua dan Ambon. 

Bahan ini dihasilkan dari bagian dalam batang pohon rumbia atau sagu yang kemudian diolah menjadi tepung dengan karakter mirip tapioka.

Dari sisi manfaat, sagu dikenal baik untuk pencernaan, aman dikonsumsi oleh penderita diabetes, memberi rasa kenyang lebih lama, serta mendukung pertumbuhan anak. Karena itulah, sagu menjadi sumber karbohidrat penting bagi masyarakat setempat.

Bahan ini dapat diolah menjadi beragam sajian, seperti papeda, sagu lempeng, sagu lempeng gula merah, sagu bakar, hingga sagu bakar kelapa. 

Selain itu, sagu juga bisa dikembangkan menjadi roti, biskuit, mi, soun, kerupuk, sagu mutiara, bahkan bahan dasar sirup. 

Papua sendiri sangat identik dengan sagu, sehingga berbagai olahan berbahan sagu telah dikenal luas dan tersebar ke banyak daerah di Indonesia.

2. Papeda
Papeda merupakan makanan tradisional yang berasal dari Papua, Maluku, dan sebagian wilayah Sulawesi. 

Hidangan ini menjadi salah satu yang paling populer dan telah dikenal luas oleh masyarakat di luar daerah asalnya. Secara tekstur, papeda menyerupai bubur kental atau gel dengan warna putih bening hingga agak keruh.

Papeda terbuat dari sagu yang diolah hingga menghasilkan tekstur lengket, mirip lem. Kandungan karbohidratnya menjadikannya pengganti nasi. 

Umumnya, papeda disajikan bersama ikan, daging, sayuran, atau kelapa, dan terkadang dibungkus daun pisang agar praktis dibawa. Kini, papeda bahkan kerap dijumpai sebagai jajanan di berbagai daerah.

3. Sagu Lempeng
Sagu lempeng adalah kue kering khas yang dapat dinikmati langsung atau dicelupkan ke dalam teh panas, kopi, maupun kuah ikan. 

Bentuk dan ukurannya bervariasi, tergantung pada cetakan dan teknik pembuatannya. Hidangan ini sering dianggap sebagai roti tradisional Papua karena fungsinya yang serupa.

Proses pembuatannya cukup sederhana, yaitu dengan mencetak adonan sagu lalu memanggangnya menggunakan alat khusus berbahan tanah yang disebut forna. 

Awalnya, rasanya cenderung tawar, namun kini tersedia variasi rasa manis dengan tambahan gula. 

Teksturnya keras, sehingga biasanya dicelupkan ke air atau minuman agar lebih lunak saat disantap.

4. Kue Bagea Sagu
Bagea sagu adalah kue kering tradisional yang dibuat dari campuran tepung sagu dan kenari. Selain dikenal di Papua, kue ini juga populer di Maluku dan Sulawesi Utara, serta sering dijadikan buah tangan.

Ciri khas bagea terletak pada teksturnya yang cukup keras saat digigit. Karena itu, banyak orang menikmatinya dengan cara mencelupkan kue ke dalam teh atau kopi agar lebih mudah dikunyah. 

Rasa manisnya cocok dinikmati saat bersantai atau menemani waktu luang.

5. Sagu Bungkus Ulat Sagu
Sajian tradisional ini memadukan sagu dengan ulat sagu yang hidup di batang pohon sagu. Proses pengolahannya dilakukan dengan cara dibakar di atas bara selama kurang lebih 15–25 menit. 

Hidangan ini biasanya disantap selagi hangat dan kerap menjadi pendamping papeda.

Selain ulat sagu, isian bisa diganti dengan pisang setengah matang atau kelapa parut. Ulat sagu sendiri kaya protein dan dapat diolah dengan cara dibakar, digoreng, atau dijadikan sate. 

Dalam budaya Papua, ulat sagu memiliki peran penting dalam berbagai ritual adat, seperti perayaan dan upacara pemberian nama anak laki-laki.

6. Udang Selingkuh
Udang selingkuh merupakan hidangan khas yang menggunakan udang air tawar berukuran besar dengan capit menyerupai kepiting. 

Bentuk unik inilah yang membuat masyarakat setempat menyebutnya “selingkuh”, seolah udang tersebut memiliki ciri kepiting.

Udang ini dapat diolah dengan berbagai cara, mulai dari direbus, digoreng, hingga dibakar. Ada yang hanya menambahkan garam, ada pula yang menggunakan aneka bumbu. 

Seiring waktu, variasi bumbu semakin beragam, seperti saus tiram, lada hitam, saus padang, atau asam manis. 

Biasanya, sajian ini dilengkapi dengan kangkung dan bunga pepaya, menghasilkan cita rasa yang gurih, manis, dan tekstur daging yang lembut.

7. Ikan Bakar Manokwari
Ikan Bakar Manokwari dikenal sebagai sajian khas dari Papua Barat yang mempunyai karakter rasa unik. 

Keistimewaan hidangan ini terletak pada sambalnya, yaitu racikan khas daerah setempat yang jarang dijumpai di wilayah lain. 

Sambal tersebut dibuat dari berbagai bahan pilihan yang dihaluskan hingga mencapai konsistensi tertentu dan umumnya disajikan tanpa proses pemasakan.

Sebelum proses pembakaran dilakukan, ikan terlebih dahulu dilumuri air jeruk nipis agar aromanya lebih segar serta mengurangi bau amis. 

Hidangan ini juga mengandung berbagai nutrisi penting, seperti vitamin, mineral, zat besi, serta lemak yang dibutuhkan tubuh.

Biasanya, ikan bakar ini dinikmati bersama nasi panas, sambal segar, daun kemangi, serta minuman jeruk dingin. 

Apakah kamu sudah pernah mencicipi kuliner khas Papua yang satu ini?

8. Ikan Bungkus
Hidangan ikan bungkus dari Papua memiliki kemiripan dengan pepes, namun menggunakan ciri khas tersendiri. 

Makanan ini memanfaatkan ikan laut sebagai bahan utama yang kemudian dibalut menggunakan daun talas. 

Untuk bumbunya, masyarakat setempat hanya memakai garam yang berfungsi memberi rasa sekaligus mengurangi getah pada daun pembungkus.

Jumlah bahan yang digunakan sangat minimal sehingga proses pembuatannya tergolong mudah. 

Tahapan awal dimulai dengan membersihkan ikan, lalu ikan dimasukkan ke dalam daun talas dan dibungkus rapat. 

Daun talas memberikan aroma khas ketika dipanaskan. Setelah itu, ikan dibakar perlahan di atas api kecil hingga matang sempurna. Hidangan ini paling nikmat disantap selagi hangat bersama nasi putih.

9. Kue Lontar
Kue lontar merupakan sajian manis khas Papua yang sekilas menyerupai pie susu. Bagian tengahnya memiliki tekstur lembut dengan rasa manis yang dominan, sementara bagian pinggirnya lebih padat dan berfungsi sebagai pelapis isian. 

Kue ini dibuat dari campuran margarin, tepung terigu, susu, dan vanili.

Dibandingkan pie susu dari daerah lain, ukuran kue lontar cenderung lebih besar karena menggunakan cetakan khusus. 

Diameternya dapat mencapai sekitar 20 sentimeter sehingga menghasilkan kue berukuran besar. 

Karena itu, satu loyang kue lontar biasanya cukup untuk dinikmati bersama oleh sekitar delapan hingga sepuluh orang. 

Selain ukuran besar, tersedia pula versi mini berdiameter sekitar 8 sentimeter yang sering dijadikan buah tangan.

10. Keripik Keladi
Keripik keladi merupakan camilan yang diolah dari ubi keladi. Makanan ringan ini sering dijadikan kudapan sehari-hari sekaligus oleh-oleh khas daerah. 

Umumnya tersedia dalam beberapa pilihan rasa, seperti pedas, manis, dan gurih. Di Kota Sorong, camilan ini sangat mudah ditemukan karena dijual di hampir setiap pusat oleh-oleh.

Teksturnya yang renyah serta rasanya yang lezat membuat keripik keladi tidak hanya cocok sebagai camilan santai, tetapi juga pas dijadikan pendamping saat makan. 

Banyak wisatawan memilih makanan ini sebagai buah tangan setelah berkunjung ke Papua. Apakah kamu pernah mencoba keripik khas ini?

11. Sambal Colo-colo
Sambal colo-colo merupakan salah satu jenis sambal khas Papua dengan cita rasa pedas dan segar. 

Sensasi asamnya berasal dari perasan jeruk nipis yang dicampurkan langsung ke dalam sambal. 

Hidangan ini paling sering disajikan sebagai pelengkap ikan bakar bersama nasi hangat. Bahan-bahan utamanya meliputi irisan cabai, bawang, tomat, serta air jeruk nipis.

Selain dikenal di Papua, sambal ini juga dijumpai di wilayah Maluku. Tidak hanya berfungsi sebagai sambal pendamping, racikan ini juga dapat digunakan sebagai bumbu untuk olahan sate atau hidangan lainnya. 

Kini, sambal colo-colo sudah banyak tersedia di rumah makan perkotaan karena rasanya yang mampu membangkitkan selera. Apakah kamu tertarik untuk mencobanya di rumah?

12. Aunu Senebre
Aunu Senebre adalah hidangan berbahan dasar nasi dan ikan teri yang telah digoreng, kemudian dicampur dengan daun talas serta kelapa parut sebelum dikukus. 

Makanan ini cukup mudah dijumpai di berbagai daerah Papua. Cita rasanya gurih dengan tekstur cenderung kering.

Biasanya, sajian ini disantap bersama papeda atau olahan umbi-umbian lainnya. 

Kandungan ikan teri yang kaya lemak baik, seperti omega-3, dipercaya bermanfaat bagi kesehatan otak serta membantu menurunkan risiko gangguan pembuluh darah. Aunu Senebre sangat cocok dijadikan pendamping papeda.

Untuk membuatnya, bahan yang diperlukan antara lain ikan kecil sekitar satu kilogram, daun talas yang dipotong kecil, kelapa setengah tua yang diparut, garam, serta air untuk merebus. 

Ikan dan daun talas direbus hingga matang, kemudian ditiriskan. Setelah itu, campurkan kelapa parut dan garam, aduk hingga merata, lalu kukus kembali sampai matang. Hidangan siap disajikan. 

Tertarik mencoba memasaknya sendiri?

13. Cacing Laut
Cacing laut merupakan salah satu makanan khas Papua yang dikenal memiliki kandungan gizi tinggi. 

Bahan pangan ini dapat diolah dengan berbagai cara, seperti digoreng, dibakar menjadi sate, atau dimasak dengan bumbu pedas. 

Kandungan proteinnya dipercaya dapat membantu meningkatkan stamina tubuh. Cacing laut ini berasal dari kawasan Raja Ampat bagian utara dan telah lama menjadi camilan sehari-hari bagi masyarakat Kepulauan Ayau.

Hingga saat ini, cacing laut masih diperoleh langsung dari alam, bukan hasil budidaya. Proses pengambilannya dilakukan dengan mengeruk pasir menggunakan tangan, lalu memasukkan batang kayu kecil hingga cacing melilitinya. 

Setelah itu, kayu ditarik perlahan. Sebelum dimasak, bagian kepala dan ekor cacing dipotong terlebih dahulu agar siap diolah menjadi hidangan.

Sebagai penutup, ragam makanan khas papua mencerminkan kekayaan alam dan budaya setempat, menghadirkan cita rasa unik yang patut dijaga dan terus diperkenalkan.

Terkini